Deretan Pelanggaran di Megamendung Bogor Diungkap di Sidang HRS, Berikut Pelanggarannya

 


Popnesia.com - Nama mantan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ahmad Heryawan alias Aher disebut-sebut Habib Rizieq Shihab perihal rekomendasi pembangunan Pondok Pesantren Agrokultural Markaz Syariah. Selain nama Aher, nama mantan Bupati Bogor Rahmat Yasin turut disebut Rizieq.

Awalnya Camat Megamendung saat ini Endi Rismawan, yang duduk sebagai saksi dalam persidangan dugaan penghasutan berujung kerumunan dengan terdakwa Habib Rizieq, mengaku belum pernah ditemui terkait pembangunan pondok pesantren atau ponpes itu. Lantas Rizieq selaku pengurus ponpes itu sudah berhubungan dengan camat sebelumnya.

"Saya mohon maaf ke Pak Camat kalau selama ini pihak pesantren selama ini belum silaturahmi ke Pak Camat," kata Rizieq dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim), Senin (19/4/2021).

Dalam sidang ini sendiri, Rizieq didakwa menyebabkan kerumunan pada November 2020 di kawasan Megamendung, Kabupaten Bogor. Pasalnya, saat itu Rizieq menuju ponpes itu untuk kepentingan peletakan batu pertama pembangunan ponpes.

"Saya tanya dulu, sejak kapan Bapak jadi camat di Megamendung?" tanya Rizieq.

"Tahun 2019, bulan September tanggal 19," jawab Endi.

Rizieq lantas mengatakan Markaz Syariah berdiri pada 2013 serta mendapatkan rekomendasi dari para kepala daerah di wilayah itu. Dia menegaskan ponpes itu memiliki izin.

"Kemudian perlu diketahui Pak Camat, saya minta diperiksa di kantor kecamatan sejak kami berdiri, kami tidak berani bangun pesantren tanpa izin dari Pak Camat, dan rekomendasi dari camat lama, kami bahkan dapat dari pak bupati yang dulu, Pak Rahmat Yasin sebelum Ibu Ade Yasin. Kami juga dapat rekomendasi dari Gubernur Ahmad Heryawan. Jadi sekali lagi yang ingin saya sampaikan, bukan pesantren nggak ada izin, nggak ada etika, nggak ada menghargai camat," imbuh Rizieq."Kami sering silaturahmi dengan camat yang lama sebelum Bapak bertugas di sana karena Pak Camat bertugas 2019 dan 2020 sudah pandemi, dan pihak pesantren sampai hari ini belum bisa bersilaturahmi ke Pak Camat, saya ingin sampaikan bukan pihak pesantren tidak punya etika, tapi memang situasi kondisi Anda baru jadi camat," katanya.

"Tidak memakai masker, (tidak) jaga jarak, tidak sesuai, kemudian juga tidak ada cuci tangan," ujar Agus saat memberikan kesaksian di ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim), Senin (19/4/2021).

Selain itu, menurut Agus, jumlah peserta yang hadir melebihi batas yang ditentukan. Pihak panitia acara pun disebut Agus tidak menandatangani kesiapan mematuhi prokes.

"Di dalam aturan saat itu maksimal kegiatan 160 orang dan hanya 3 jam dan panitia menandatangani kesanggupan prokes ke camat, tidak ada (tanda tangan kesanggupan)," imbuhnya."Penyelenggaraan melebih jumlah yang dibatasi 150 orang. Melebih (waktu) dari 3 jam," ucap Agus.

(detik.com)

Subscribe to receive free email updates: