Makan dengan Garam dan Remahan Gorengan, Begini Kondisi Miris Santri Pesantren di Gowa

Popnesia.com - Pondok pesantren merupakan sebuah tempat guna menimba dan memperdalam ilmu agama. Tak jarang, banyak santriwan dan santriwati yang rela menyeberangi lautan demi belajar ilmu agama di pondok pesantren tertentu.
Seperti para penimba ilmu di Pesantren Al-Jami Gowa, Sulawesi Selatan berikut ini. Banyak remaja yang berasal dari seluruh penjuru Tanah Air.

Miris, kondisi bangunan hingga fasilitas justru tak memadai. Mereka seringkali hanya mampu mengonsumsi bahan makanan seadanya.

Seperti apa kelanjutannya? Simak ulasan selengkapnya berikut ini.
Menampung Santri dari NTT
Pesantren Al-Jami merupakan salah satu tempat menimba ilmu agama Islam yang terletak di kaki Gunung Lompobattang, Gowa. Pesantren ini diketahui menampung para pelajar setempat hingga NTT.

Nahas, mereka justru dikepung kesulitan. Kekurangan bahan makanan bergizi menjadi tantangan tersendiri bagi para santri setiap harinya.

"Ada ribuan santri di pelosok Indonesia yang kesulitan makan bergizi[…] Salah satunya adalah Pesantren Al-Jami di kaki Gunung Lompobattang, Gowa, Sulawesi Selatan. Santri-santriwati dari NTT berlayar arungi lautan untuk bisa menuntut ilmu agama di pesantren ini," dikutip dari kitabisa.com.
Usaha Santri untuk Makan
Untuk memenuhi kebutuhan, para santri harus rela berjuang bersama. Mereka acapkali harus bekerja serabutan untuk mendapatkan uang dan makanan.
Pelajar putri seringkali memetik kopi bersama untuk diupah seharga Rp1000/liter. Sementara itu, para pelajar putra hanya bergantung pada upah yang diberi saat membantu kendaraan mogok.

"Pesantren dapat memenuhi kebutuhan belajar agama tapi untuk makan seringkali kesulitan. Di sela-sela belajar agama, santriwati memetik kopi di kebun warga untuk Rp 1 ribu/liter agar bisa makan sehari-hari sedangkan santri bantu kendaraan yang mogok untuk diupah seadanya," dikutip dari kitabisa.com.

Makan dengan Garam dan Remahan Gorengan
Alhasil, mereka sering mengonsumsi makanan seadanya. Garam dan remahan gorengan menjadi tumpuan para santri untuk hidup sehari-hari.
Tak jarang, sayur-mayur yang berada di sekeliling pesantren juga kerap menjadi andalan.

"Mereka bergantian memasak nasi (jika ada) dengan kayu bakar. Kadang ada sayur-sayuran yang jadi teman nasi namun tak jarang mereka hanya makan nasi dan garam atau remahan gorengan yang mereka beli seharga Rp2 ribu," dikutip dari kitabisa.com.
Bangunan Nyaris Roboh
Tak cukup sampai di sana, para santri masih harus bertahan hidup di bawah bangunan pesantren yang mulai rusak. Meski demikian, semangat para santri untuk berjuang menimba ilmu agama tak pernah padam.

"Kondisi yang serba terbatas, beras kadang tak cukup, asrama kayu nyaris roboh, hingga ruang kelas yang beralaskan semen tidak mengurangi belajar santri untuk menjadi Hafidz dan Hafidzah," dikutip dari kitabisa.com. (merdeka.com)

Subscribe to receive free email updates: