Mafia Tanah Fredy Kusnadi Ditangkap Polisi, Polisi Ungkap Pola Penipuannya

Popnesia.com - Polda Metro Jaya berhasil mengungkap sindikat mafia tanah yang dilaporkan eks Wamenlu Dino Patti Djalal. Sebanyak 15 tersangka dari 3 laporan berbeda ditangkap, termasuk Fredy Kusnadi otak mafia tanah.

Menanggapi keberhasilan polisi mengungkap kasus ini, Dino Patti Djalal memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih, khususnya kepada Presiden Jokowi.

"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada polisi yang telah berhasil mengidentifikasi para tersangka dan meringkus dan menangkap mereka, dan secara khusus saya ingin mengucapkan apresiasi yang tinggi kepada Bapak Presiden Joko Widodo yang telah memberikan perhatian besar terhadap masalah tanah ini," kata Dino dalam pernyataan dikutip dari instagram pribadinya, Jumat (19/2).

Selain itu ia juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Menteri BPN Sofjan Djalil, dan Menko Polhukam Mahfud MD.

"Dan juga terima kasih kepada Kapolri Bapak Listyo Sigit Prabowo kepada Menteri BPN Bapak Sofyan Djalil, kepada Menteri Koordinator polhukam Mahfud MD," kata dia.

Dino berharap polisi tidak berhenti di sini. Dia sangat ingin polisi juga menindak para mafia tanah yang lebih banyak menyasar ke rakyat kecil.

"Akhirnya saya juga berharap bahwa kasus yang saya alami yang dialami keluarga saya ini dapat menjadikan inspirasi bagi orang-orang lain yang telah menjadi korban termasuk juga orang-orang rakyat kecil dan lemah dan miskin yang sering tidak berdaya menghadapi mafia tanah. Semoga mereka melihat bahwa keadilan bisa ditegakkan dan mafia tanah atau mafia rumah atau sindikat tanah apapun namanya mereka dapat dikalahkan dan hukum kita dapat ditegakkan Insyaallah," ucap dia.

Sebelumnya diberitakan dari 3 laporan mafia tanah ini, 15 tersangka berhasil ditangkap. Salah satunya adalah Fredy Kusnadi yang disebut Dino Patti Djalal sebagai otak mafia tanah yang sudah merugikan keluarganya itu.

"Dari pengungkapan tiga laporan polisi ini ada 15 tersangka yang bisa ditangkap, masing-masing LP ada 5 tersangka. Jadi dari 3 LP ini totalnya adalah 15 tersangka," kata Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Fadil Imran saat jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jumat (19/2).

Fadil menyebut, dalam aksinya ini sindikat mafia tanah membagi peran masing-masing. Ada aktor intelektualnya hingga pejabat pembuat akta tanah gadungan.

"Dalam melakukan aksinya, kelompok mafia tanah ini berbagi peran, ada yang bertindak selaku aktor intelektual, ada yang bertindak pihak yang menyiapkan saran dan prasarana, ada yang bertindak selaku figur dalam pengertian yang mengaku sebagai pemilik atas tanah dan bangunan," ungkapnya.

Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Tubagus Ade Hidayat mengatakan, modus para mafia tanah ini memainkan proses pembelian dengan semua dokumen palsu. Celakanya, dari proses palsu ini, lahirlah sertifikat asli yang terdaftar di BPN.

"Apakah itu sertifikat palsu? Tidak. Itu tidak palsu tetapi orang yang menjual tidak pernah menjual. Jadi bukan seperti pencetakan yang palsu. Ini tercatat di BPN," kata Tubagus dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jumat (19/2).
Pola ini terlihat dalam laporan kedua, yakni kasus pengambilalihan sertifikat rumah di Kemang, Jakarta Selatan.

Tersangka Sherly datang untuk membeli rumah ibunda Dino Patti Djalal. Sertifikat rumah itu memang atas nama Yurmisnarwati, seorang kerabat Dino.

Proses pembelian ini, Sherly nego harga dengan tersangka Ali Topan. Ali Topan merupakan broker tanah yang juga orang kepercayaan Ibunda Dino. Mereka sepakat menjual tanah itu Rp 19,5 miliar.

Setelah kesepakatan terjadi, Sherly meminjam sertifikat dengan alasan ingin dicek ke BPN. Tapi bukan dicek malah dibaliknamakan.
Sherly menyebut, ada perintah dari Fredy Kusnadi untuk menggunakan peran palsu agar proses jual beli di notaris berjalan lancar. Tersangka RS lalu menyiapkan segala dokumen palsu yang diperlukan.

Fredy lalu menyiapkan pemeran Yurmisnarwati yang perankan oleh tersangka Aryani. Lalu, suami Yur diperankan oleh tersangka Agus. Proses jual beli dengan peran palsu pun terjadi dan berhasil dilakukan.

Kasubdit Harda Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP Dwiasi Wijayaputera, mengatakan, Fredy memerintahkan Aryani untuk memerankan sosok Yur dengan memberi sejumlah uang.

"Fredy Kusnadi yang menyuruh dia membayar RP 10 juta rupiah untuk menjadi figurnya Bu Yurmisnarwati," kata Dwiasi di Mapolda Metro Jaya, Jumat (19/2).

"Jadi setelah itu kita ikat lagi dengan alat bukti yang lain, adanya KTP palsunya, kemudian ada hubungan komunikasinya, dari situ kita lakukan gelar perkara, langsung kita tetapkan tersangka, Fredy Kusnadi tadi pagi kita tangkap," jelas dia.
Dalam kasus ini, para tersangka dijerat Pasal 263 KUHP, 266 KUHP, dan 378 KUHP. (Kumparan)

Subscribe to receive free email updates: