Imbau Kepada Lansia Agar Tidak Takut Suntik Vaksin, Berikut Cerita Wapres Setelah Di Suntik Vaksin

Wakil Presiden Ma\"ruf Amin menjalani vaksinasi covid-19 di kediaman dinasnya kawasan Menteng, Jakarta Pusat sekitar pukul 08.30 WIB, Rabu (18/2/2021).

Usai divaksin mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini mengaku tidak merasakan apa-apa. Ia tidak pusing dan tidak merasakan sakit.

"Alhamdulillah tidak ada masalah, tidak sakit, tidak ada rasa pusing, biasa-biasa saja," kata Ma\"ruf melalui siaran video di kanal Youtube Wakil Presiden Republik Indonesia, Rabu (17/2).

Wapres pun mengajak para lansia yang masuk kelompok rentan untuk ikut berpartisipasi dalam vaksinasi Covid-19.

"Diharapkan untuk bisa masyarakat Indonesia mengalami kekebalan terhadap Covid-19 ini dan kita belum tahu Covid-19 ini sampai kapan. Nah, kekebalan bisa dicapai kalau sudah mencapai 70 persen rakyat Indonesia divaksin, atau herd immunity," ujarnya.

Ma\"ruf pun menyampaikan bagaimana pentingnya vaksin dari persepektif agama Islam. "Menurut agama, ini fardhu kifayah. Wajib untuk melakukan vaksin itu. Bahasa kiai itu menjaga daripada penyakit itu hukumnya wajib," katanya.

Ma\"ruf melanjutkan kewajiban itu baru gugur ketika target 70 persen masyarakat divaksin atau mencapai herd immunity.

"Artinya kalau belum tercapai itu, dia belum hilang kewajibannya. Kalau dia tidak melaksanakan itu berdosa, bagi mereka yang memang tidak bermasalah untuk divaksin, kecuali yang memang ada sesuatu yang tidak boleh divaksin," lanjut Ma\"ruf.

"Tetapi yang boleh maka hukumnya fardhu kifayah, yang kewajibannya gugur kalau sudah herd immunity yaitu 70 persen divaksin," pungkasnya.

Sebelumnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), mengeluarkan persetujuan penggunaan emergency use of authorization (EUA) vaksin CoronaVac untuk usia di atas 60 tahun.

Menurut Kepala BPOM, Penny Lukito, kebijakan tersebut dilakukan berdasarkan pertimbangan banyaknya korban meninggal terinfeksi virus corona pada kelompok usia tersebut.

“Angka kematian akibat Covid-19 ini menunjukkan data statistik bahwa kelompok usia lanjut atau lansia menduduki porsi cukup tinggi, yaitu sekitar 47,3%, berdasarkan data terakhir yang kami dapatkan dari KPC-PEN (Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonoi Nasional),” kata Penny.

Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, persentase lansia yang terpapar virus corona di Indonesia sejumlah 10 persen namun total yang meninggal karena Covid-19 mencapai angka 50 persen. Hal tersebut menunjukkan risiko besar bagi para lansia di dalam mengghadapi pandemi Covid-19.

“Karena berbasis risiko. Kalau tenaga kesehatan risikonya tinggi karena sering dan banyak terekspos virus. Kalau lansia didahulukan karena risikonya tinggi, kalau terkena, kemungkinan fatalnya besar,” ungkap Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, pada keterangan persnya secara virtual.

Sebagai informasi, program vaksinasi Covid-19 untuk kelompok usia 18-59 tahun telah berjalan secara bertahap sejak 13 Januari 2021 lalu.

Melalui program vaksinasi, pemerintah dan masyarakat Indonesia menaruh harapan besar agar herd immunity segera terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan Wakil Presiden Ma\"ruf Amin telah menerima vaksinasi Covid-19.

"Tadi pagi kami mendampingi pak wapres mendapatkan vaksin. Mudah-mudahan ini menjadi dorongan motivasi agar lansia Indonesia yang kritis, yang rawan terhadap penyakit bisa datang dan divaksin terlebih dahulu," kata Budi.

Pemerintah menargetkan, 21,5 juta orang lansia akan menerima vaksin Covid-19 Coronavac dengan interval waktu 28 hari. Dalam pelaksanaan vaksinasi pada kelompok lansia ini terdapat prosedur berbeda dan spesifik dalam melakukan vaksinasi.

Selain interval penyuntikan, ada tahapan lain yang diberlakukan. Yakni, tekanan darah dan suhu, sama dengan kategori lain, yaitu suhunya mesti 37,5 derajat celcius ke bawah dan tekanan darahnya tidak boleh lebih dari 180/110 mmHg.

Kemudian, ditambah dengan wawancara sebelum dilakukan penyuntikan kepada lansia, sebagai wujud kehati-hatian.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah:

Apakah mengalami kesulitan untuk naik 10 anak tangga?

Apakah sering merasa kelelahan?

Apakah memiliki paling sedikit 5 dari 11 penyakit (Hipertensi, diabetes, kanker, penyakit paru kronis, serangan jantung, gagal jantung kongestif, nyeri dada, asma, nyeri sendi, stroke dan penyakit ginjal)?

Apakah mengalami kesulitan berjalan kira-kira 100 -200 meter?

Apakah mengalami penurunan berat badan yang bermakna dalam setahun terakhir?

Jika ada tiga atau lebih yang dijawab ‘iya’ oleh calon penerima vaksin lansia, maka vaksin tidak dapat diberikan.

Calon penerima vaksinasi diharapkan memberikan keterangan sesuai dengan kondisi sebenarnya, agar efek vaksin yang maksimal dan memperkecil risiko terjadinya Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi atau KIPI yang serius.

(Tribunnews)

Subscribe to receive free email updates: