Tak Dapat Bansos Saat Pandemi, Cerita Keluarga Ilma Harus Makan Tepung Goreng

Popnesia.com - Di tengah ramainya pemberitaan korupsi bantuan sosial (bansos), Ilma Ferzia Handayani (22) justru berjuang bertahan hidup imbas bansos yang tak merata.
Usai Menteri Sosial (Mensos) Juliari P Batubara ditangkap Komisi Pembrantasan Korupsi (KPK), sejumlah masyarakat mengungkapkan kekecewaan mereka.

Tak hanya warganet, beberapa masyarakat meluapkan kekesalannya.

Ilma contohnya. Secara terang-terangan ia mengaku kecewa.
Pasalnya, di luaran sana banyak masyarakat yang menanti-nantikan bansos untuk keberlangsung hidup keluarganya.
Terutama mereka yang hidup mengontrak.

"Itu parah sih. Pantas saja yang dapat bansos enggak merata. Ujung-ujungnya warga yang tinggal di kontrakan seperti saya ini yang tak dapat bantuan," katanya saat ditemui di Jalan Salam Persatuan RT 7 RW 1, Depok, Rabu (9/12/2020).

Sedari awal pandemi, Ilma menuturkan sudah berjuang bersama suaminya, Asep (27) demi tiga buah hati mereka, Dika (7), Aprilia (5) dan Azkia (2).

Profesi Asep yang merupakan seorang driver ojek online (ojol) nyatanya tak mampu memenuhi kebutuhan mereka selama pandemi.

Sedari bulan April, pendapatan Asep menurun drastis.
Jangankan untuk membayar cicilan sepeda motor, untuk membeli beras satu liter pun ia tak sanggup.

"Pas bulan April itu mulai parah. Kan sebelumnya masih dapat bansos. Itupun sekalinya itu aja. Sampai saat ini enggak pernah lagi," katanya.
Yap, tinggal mengontrak membuatnya kerap tak menerima bantuan selama pandemi.

Meskipun ada bantuan presiden, nyatanya Ilma tak pernah kebagian karena namanya tak pernah terdata.

"Saya pernah tanya kenapa enggak ada namanya kan. Ya begitu jawabannya. Akhirnya kami pasrah ajalah. Karena memang nyatanya tidak merata. Seperti samping rumah saya juga enggak dapat," jelasnya.
Pascamotor Asep ditarik pihak leasing akibat menunggak, kehidupan keluarga Ilma semakin terasa sulit.

Satu persatu barang-barang yang memiliki nilai ekonomis dijual olehnya.
Untuk pertama kalinya, Ilma menjual ponsel miliknya dan sang suami.

"Bansos enggak ada. Uang simpanan juga sudah habis. Kalau saya sama suami kuat tahan lapar, kalau anak-anak kan enggak," ujarnya.

"Suami juga cari kerja sana sini, tapi memang belum dapat. Ibarat kata serabutan, ada orang nyuruh dia lakonin. Tapi pas lagi enggak ada, kami jual barang-barang yang ada," lanjutnya.

Setelah ponsel dijual, lemari pakaian hingga kasur yang mereka miliki terpaksa dijual juga.
Alhasil, rumah kontrakannya tampak kosong melompong tanpa meja dan perabotan lain kecuali televisi jaman dulu (jadul) dan kasur lantai.
Sementara pakaian diletakkan begitu saja di lantai karena lemari yang turut di jual.

"Saya tuh sampai sesusah itu imbas pandemi. Makanya sampai enggak habis pikir kalau dana bansos itu dikorupsi juga," jelasnya.
Ilma berharap ada hukuman setimpal untuk para tersangka.

Setelah semua barang-barang dijual dan masih bekerja serabutan, Ilma kerap mumutar otak setiap harinya.
Bila uang dan stok makanan di rumahnya habis, Ilma dan Asep mulai berpikir keras.
Tak jarang kepala keduanya sering terasa sakit lantaran memikirkan hal-hal yang mereka anggap pelik.

Apalagi sebulan tetakhir ini, cuci gosok yang biasa dikerjakan Ilma juga sedang tak ada panggilan.
Sementara uang suaminya tak menutupi karena pekerjaan yang serabutan.
Akhirnya mereka terpaksa memasak tepung yang dicampurkan air dengan gula.

"Saudara saya kehidupannya juga enggak jauh beda. Jadi saya coba bertahan tanpa nambah beban pikiran mereka. Kalau enggak ada nasi, palingan anak-anak makan tepung goreng aja. Alhamdulillahnya mereka ngertiin semua," ungkapnya.

Ilma menyebut sepekan terakhir ini ketiga anak mereka harus makan dengan tepung goreng.
"Ini juga dari kemarin makannya tepung. Itu juga boleh dikasih karena saya sempat tulis di Facebook. Akhirnya ada yang bantu juga dari aparat beras 5kg," tandasnya.
Ilma berharap para pelaku korupsi mendapatkan hukuman yang setimpal. (Tribunnews)

Subscribe to receive free email updates: