Beredar Kabar Ada Pemaksaan Rapid Test di Pintu Keluar Tol Salatiga, Begini Faktanya

Popnesia.com - PT. Trans Marga Jateng memastikan adanya kabar pemaksaan rapid test di pintu keluar Jalan Tol Salatiga adalah hoaks.

Kabar pemaksaan rapid test tersebut sebelumnya beredar di media sosial.

Manager Administrasi PT. Trans Marga Jateng Sarjono menyampaikan pemeriksaan hanya dilakukan di beberapa rest area yakni di Rest Area 429 A Ungaran, Rest Area 456 A dan B (Resta Pendopo 456).

"Pelaksanaan rapid test hanya dilakukan oleh dinas terkait yang diselenggarakan oleh pemerintah yaitu pihak kepolisian dan Dinas Kesehatan pemerintah setempat," terangnya, Selasa (29/12/2020).

Dia juga menyampaikan pelaksanaan rapid test tersebut diadakan pada pagi sampai siang hari.

"Jadi informasi yang beredar di media sosial tersebut tidak benar atau hoaks," tegasnya.

Sarjono menambahkan untuk pengguna Jalan Tol Semarang-Solo, tidak ada penutupan dan pembatasan untuk melintas.

Sebelumnya ada informasi pemaksaan terhadap rombongan dari Depok yang akan ke Salatiga.

Rombongan tersebut sudah membawa surat keterangan hasil tes rapid antigen.

Namun saat tengah malam keluar di pintu tol Salatiga ada razia protokol kesehatan dan diwajibkan rapid test.

Meskipun sudah menunjukkan surat keterangan negatif hasil tes antigen tetap diwajibkan ikut rapid test di tempat dan membayar Rp 150.000 per orang.

Karena ada tiga orang, sehingga total membayar Rp 450.000 tapi tidak diberi kuitansi pembayaran dan jika tidak membayar diharuskan balik masuk ke tol lagi.

Wali Kota Salatiga Yuliyanto juga membantah adanya rapid tes di pintu keluar tol Salatiga.

Menurut dia, Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 tidak bertugas di pintu keluar tol Salatiga.

"Tidak ada tim Satgas Covid-19 yang bertugas di pintu tol Salatiga. Jadi kalau ada kabar pemeriksaan rapid test dan membayar hingga Rp 150.000 maka harus diklarifikasi itu, petugasnya siapa dan dari mana," kata Yuliyanto, Senin (28/12/2020) saat dihubungi.

Yuliyanto mengatakan jika ada jajarannya yang memanfaatkan situasi pandemi ini untuk kepentingan pribadi, maka akan ada sanksi yang menanti. (Kompas.com)

Subscribe to receive free email updates: