How Democracies Die Viral, Kata Pengamat, Ini Makna Anies Unggah Buku 'How Democracies Die'

Popnesia.com - How Democracies Die. Judul buku yang dibaca Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan pada Minggu, 22 November 2020 pagi. Hal itu tampak dalam unggahan di akun Instagram pribadinya.

"Selamat pagi semua. Selamat menikmati Minggu pagi," tulis @aniesbaswedan.
Tak hanya penampilan santai Anies yang mengenakan setelah kemeja putih plus sarung yang jadi sorotan. Namun, apa yang dibaca oleh Gubernur DKI Jakarta tersebut begitu mencolok dan menarik perhatian warganet.

"Judul Bukunyaaa Kode Kerass! Segar selalu pak! salam dari Jabar," tulis @ozonnmariana.
"Bukunya kode banget," lanjut @okiez_99.

Pengamat Politik Burhanuddin Muhtadi tidak secara terang-terangan mengomentari unggahan tersebut. Dia hanya menjelaskan tentang bagaimana cara agar demokrasi tidak mati berdasarkan isi buku tersebut.

"Kata penulis ini, agar demokrasi tidak mati, politisi sebaiknya tidak membangun electoral base dengan mengeksploitasi apa yang Jeff Flake sebut sebagai “sugar high of populism, nativism, and demogaguery," tulisnya dikutip Senin (23/11/2020).

Sementara, pengamat Politik Yunarto Wijaya berseloroh tentang unggahan Anies Baswedan itu. Dia menyebut mantan mendikbud itu lebih baik mengurusi pengerukan sungai. Pasalnya, Jakarta mulai diguyur hujan.

"Pakgub lagi belajar cara membuat demokrasi mati? Mending urusin pengerukan sungai pak, mulai hujan mulu," tulisnya.

Lalu, apa sebenarnya isi buku dengan cover hitam dan fon tulisan putih tersebut?

Berdasarkan keterangan dari situs lifeclub.org, How Democracies Die merupakan karangan dari Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt.

Buku ini menjelaskan seputar kematian sistem demokrasi dunia, mengingat sejumlah permasalahan politik, terutama di kawasan Amerika.

Dalam bukunya, Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt menjelaskan jika demokrasi ingin tetap sehat dan berfungsi, diperlukan sejumlah kepatuhan pada aturan tertentu serta kode etik pro-demokrasi.

"Dengan melihat studi kasus dari demokrasi yang jatuh di Venezuela dan Peru, penulis mengklaim bahwa sikap yang dipromosikan oleh pemerintahan Trump telah menyebabkan munculnya kediktatoran," tulis lifeclub.org.
Levitsky dan Ziblatt menjelaskan bagaimana demokrasi di AS telah lama bermasalah. Terutama dalam hal hak pemilih. Penulis juga memberikan harapan kepada pembaca agar AS dapat mengatasi badai tersebut.

"Dalam ringkasan How Democracies Die oleh Steven Levitsky, Daniel Ziblatt, Anda juga akan menemukan bagaimana sistem dua partai di AS berfungsi sebagai penjaga gerbang yang kuat di masa lalu. Mengapa para pemimpin Republik perlu melangkah dan membersihkan rumah seperti yang dilakukan Swedia pada tahun 1930-an; dan bagaimana Partai Republik berubah dari partai Lincoln menjadi partai Trump," tulis Lifeclub.

Kematian demokrasi suatu negara yang digambarkan oleh Levitsky dan Ziblatt dicirikan dalam sejumlah tanda-tanda.

"Tanda bahaya itu adalah ketika seorang politisi mencoba untuk mendiskreditkan lawannya secara palsu. Apakah seseorang membuat klaim yang tidak berdasar bahwa lawan harus dipenjara, atau merupakan musuh negara?"

"Tanda peringatan selanjutnya adalah toleransi, atau sikap mendorong terhadap penggunaan kekerasan. Apakah dia berbisnis dengan tokoh-tokoh mafia atau mendukung aksi orang militan?"

"Tanda terakhir adalah ungkapan keinginan untuk mereduksi hak-hak sipil seseorang atau lembaga, seperti tuntutan bahwa negara akan lebih baik tanpa kebebasan pers."

How Democracies Die diterbitkan pada tahun 2018 dengan total 320 halaman. Berdasarkan keterangan dari situs amazon.com, buku ini dijual dengan harga US$ 33,90 atau setara Rp 479 ribu (kurs 1 USD = Rp 14.147).

How Democracies Die juga memaparkan contoh kasus pergejolakan politik di sejumlah negara yang menunjukkan bagaimana cikal bakal kematian sebuah demokrasi sebagai sistem negara. (Liputan6)

Subscribe to receive free email updates: