Lagi, Masalah Radikalisme Agama di Tubuh Telkomsel

 

Popnesia.com - Parasit radikalisme yang menempel di tubuh telkomsel nyatanya memang sulit sekali dibersihkan. Seperti noda di pakaian yang masih utuh walaupun sudah dituang pemutih sekalipun. Padahal, tahun lalu jagat Indonesia sudah heboh akibat Masjid Al-Muta’arof, di Menara Multimedia Telkom yang dianggap terlalu dekat dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Para penceramah yang diundang seperti Felix Siauw, Tengku Zulkarnaen, Haikal Hassan, dan Weemar Aditya adalah mereka-mereka yang masuk dalam kategori penceramah Islam garis keras. Bahkan Felix Siauw begitu getol dengan ide khilafah dan perlunya menegakkan gagasan itu di Indonesia.

Mayoritas (52,09%)  saham telkomsel adalah milik BUMN, karena itu pantas saja rakyat marah jika aset negara dimanfaatkan sebagai lahan berkembangbiaknya ide-ide anti-pancasila dan pro-khilafah. Tahun lalu, rakyat marah pada telkomsel dan tagar #TelkomProRadikalis naik kepermukaan dan menjadi viral. Sebagian mengambil aksi yang lebih tegas, langsung memutuskan layanan IndiHome.

Kali ini masalah serupa muncul lagi. Tagar #boikotTelkomsel menduduki posisi tertinggi di twitter dan ancaman untuk berhenti menggunakan layanan telkomsel kembali menguat. Penyebabnya sama, salah satu karyawan telkomsel bernama Febriansyah Puji Handoko merasa kesal dengan Denny Siregar dan memutuskan untuk mengungkap data pribadi Denny ke publik. Jelas, ini melanggar aturan. Febriansyah pun telah digelandang aparat ke kantor polisi. Tapi mengapa Febriansyah benci Denny Siregar?

Siapakah Febriansyah Puji Handoko?

Febriansyah adalah karyawan outsourcing di GraPARI Telkomsel Rungkut Surabaya. Sebagian warganet menyebutnya sebagai salah satu Kadrun. Singkatan dari kadal gurun yang menggambarkan watak orang yang “ke-arab-araban”. Sebutan ini muncul lantaran foto Febriansyah terpampang dengan jenggot. “Ini gaya standar Kadrun” kata sebagian warganet.

Menduga keyakinan seseorang berdasarkan jenggotnya memang kurang ilmiah. Tapi, rekam jejak pemikiran Febriansyah yang ia posting di twitternya dengan akun @Brians_AFC telah memperkuat dugaan bahwa ia sangat membenci NU, Banser, GP Ansor, pemerintah Jokowi, anti-Syiah dan anti dengan pemimpin non-Muslim. Ciri-ciri ini memang ciri-ciri umum yang melekat pada mereka yang berlabel kadrun.

Pada postingan twitter tertanggal 5 Juli 2017 ia menulis:

“Saya NU sejak lahir, tp banser yang sekrang bukanlah yg dulu. Banser yg sekarang Cuma Bani Serbet yang amar munkar nahi ma’ruf”

Postingan tanggal 12 Juli 2019:

“Hadits ini kalo dibaca banser, ansor n “aNUS” pasti udah dibilang “Wahabi/khawarij dst” karena dibilang suka mengkafir2kan orang. Sama kayak waktu kita sampaikan ayat memilih pemimpin kafir waktu itu. Padahal ayat dr Allah SWT, dan hadits adalah perkataan Nabi SAW”

Postingan tanggal 24 juli 2019:

“Kalau Anus jelas menuduh Saudi, karena NU sendiri sekrang sudah disusupi Syiah (laknatullah). Bahkan Muhammadiyah saja ada yang difitnah Wahabi, pdhl dr dulu Muh juga mendakwah larangan masalah bidah, tp sekrang mereka ikut dituduh macem2.”

Beberapa postingan Febriansyah melalui akun twitternya cukup memberikan gambaran kepada kita siapa Febriansyah dan berada dikubu mana dia. Pemikiran Febriansyah mirip dengan pemikiran para pendakwah yang tahun lalu aktif mengisi ceramah di masjid Al-Muta’arof.

Jika radikalisme agama dimaknai sebagai upaya formalisasi ajaran Islam melalui pemahaman literal terhadap teks, dan cenderung mudah menggunakan cara-cara ilegal dalam memaksakan pemahaman mereka, maka Febriansyah—karyawan telkomsel itu—bisa kita sebut telah perpapar radikalisme. Cara dia memaknai teks tentang kepemimpinan non-muslim secara tekstual, kebenciannya terhadap NU yang mengedepankan keberagaman dan lokalitas, serta membobol data pribadi Denny Siregar—yang  sering mengkritik HTI dan kelompok muslim tekstual—untuk melakukan teror jelas membuktikan bahwa Febriansyah memang telah terpapar radikalisme. Terpaparnya Febriansyah oleh virus radikalisme ini erat kaitannya dengan keberadaan Majlis Telkomsel Taqwa (MTT), sebagai forum dakwah yang hidup di dalam naungan telkomsel.


Tentang Majlis Telkomsel Taqwa (MTT)

Ini adalah majlis dakwah yang berperan dalam penyebaran wawasan keagamaan di tengah karyawan telkomsel. Peran ini begitu vital. Majlis ini adalah wadah yang menampung ceramah-ceramah Felix Siauw, tokoh khilafah HTI itu. Wawasan keislaman para karyawan telkomsel mulai dari pusat sampai kecabang-cabangnya telah dipengaruhi oleh materi-materi keislaman yang disajikan melalui MTT.

Bahkan, MTT dilaporkan pernah bekerjasama dengan ACT untuk mengirim bantuan ke Suriah. Bantuan yang pada ujungnya diperuntukkan kepada para teroris untuk melawan pemerintah Suriah. (baca: Lanjutan Perseteruan Denny Siregar vs Telkomsel: Melacak Bantuan MTT ke Suriah).

Tahun lalu, pemikiran keislaman ketua umum MTT pusat bernama Wawan Budi Setiawan telah berhasil terungkap ke publik. Jejak digital Wawan pun membuktikan bahwa dirinya adalah seorang tokoh Islam garis keras dan pendukung HTI.

Sekarang, meski kepemimpinan MTT telah diganti oleh Ade Muzawir, keadaan tidak berubah. Pergantian ketua mungkin dilakukan hanya untuk memberikan kesan kepada publik bahwa MTT telah memiliki keinginan untuk membersihkan noda radikalisme ditubuhnya. Ceramah-ceramah Ade Muzawir yang terunggah di You Tube memberikan isyarat bahwa dia masih satu visi dengan Wawan. Hanya saja, ia menghindari isu-isu sensitif agar tidak memicu keributan. (HA/LiputanIslam.com)

Subscribe to receive free email updates: