Inilah Sosok Wanita Teman Ketua DPRD Lebak di Kamar Hotel, Sederat Fakta Kematian Dindin Terungkap

 

Popnesia.com - Sosok perempuan teman satu kamar hotel bersama Ketua DPRD Lebak Dindin Nurohmat akhirnya terungkap. 

Wanita yang berinisal L itu check-in bersama Dindin di kamar Hotel Marilyn, kawasan Serpong, Jalan Raya Serpong, Pakulonan, Serpong Utara, Tangerang Selatan. 

Dindin Nurohmat ditemukan tewas pada Minggu (6/9/2020) dini hari. 

Pada detik-detik terakhir sebelum meninggal dunia, Dindin tidak sendiri. Ketua Pengurus Cabang Tunas Indonesia Raya (PC TIDAR) Lebak itu sedang bersama seorang wanita berinsial L di Hotel.

"Dia menginap sama rekan, rekan almarhum. Jenis kelamin wanita," ujar Iman. 

Dindin datang bersama L sejak check-in di Marilyn. 

Namun sosok L itu masih menjadi misteri. Iman belum mengungkapkan hubungan atau kedekatan L dengan Dindin. 

"Tapi kita belum bisa menyimpulkan apakah pacar istri atau mungkin dia rekan kerja itu masih kita dalami," ujarnya. 

Ketua DPRD Kabupaten Lebak Dindin Nurohmat, meninggal dunia saat menginap di sebuah hotel kawasan Serpong, Jalan Raya Serpong, Pakulonan, Serpong Utara, pada Minggu (6/9/2020). 

Tewasnya pimpinan tertinggi lembaga legislatif di Lebak itu menimbulkan sejumlah pertanyaan. 

Pasalnya Dindin berada cukup jauh dari wilayahnya dan penyebab tewasnya belum diketahui. 

Terlebih, Dindin masih terhitung muda, baru berusia 37 tahun, dengan karir politik yang moncer. 

Selain menjadi pimpinan dewan Lebak, Dindin juga menjabat Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerindra Lebak. 

Pada Pemilu 2019, Dindin berhasil membawa partainya menjadi pemenang dengan perolehan kursi parlemen terbanyak, sembilan kursi. 

Kronologi 

Kapolres Tangsel, AKBP Iman Setiawan, mengungkapkan kronologi meninggalnya Dindin bermula saat Politikus Gerindra itu check in di Hotel sekira pukul 22.00 WIB, Sabtu (5/9/2020), bersama seorang wanita, yang diketahui berinisal L. 

Empat jam kemudian, sekira pukul 02.00 WIB dini hari, Dindin mengeluhkan sakit di bagian dada.

"Jadi kronologisnya saat almarhum bersama rekannya menginap di sana di hotel pada jam 10 malam masuk, jam 02.00 WIB malam mengeluh, karena dadanya," ujar Iman di Mapolres Tangsel, Jalan Raya Promoter, Serpong, Senin (7/9/2020). 

Dua jam kemudian, sekira pukul 04.00 WIB, Minggu (6/9/2020), rekan wanita Dindin menghubungi petugas hotel dan bantuan medis datang. 

"Kemudian rekannya menghubungi petugas front office dan dihubungi rumah sakit, kurang lebih jam 04.00 WIB subuh ada bantuan medis yang melakukan pemeriksaan di sana. Setelah itu korban dinyatakan meninggal dunia," ujanya. 

Setelah dinyatakan meninggal, Dindin dibawa ke rumah sakit sebelum dibawa ke rumah duka, walaupun tidak diotopsi. 

Resep Obat dan Riwayat Penyakit 

Iman mengatakan, Dindin memiliki riwayat penyakit, walaupun belum diungkapkan apa penyakit yang dimaksud. 

"Menurut keterangan, korban punya riwayat medis," ujarnya. 

Di kamar hotel kelas deluxe itu, juga ditemukan resep obat. Lagi-lagi Iman belum mengungkapkan jenis obat yang dimaksud. 

"Secara spesifik saya harus cek lagi (jenis obatnya). Yang jelas berdasarkan keterangan saksi ada keluhan dada dan juga kita sempat konfrontir bahwa ada riwayat sakit," ujarnya. 

Tiga Saksi Kunci

Setidaknya terdapat tiga saksi kunci yang tengah digali keterangannya oleh pihak kepolisian demi mengungkap penyebab meninggalnya Dindin. 

Ketiga saksi itu adalah, rekan wanita berinisial L yang menginap sekamar dengan Dindin, petugas hotel dan petugas medis yang melakukan pemeriksaan sebelum menyatakan Dindin meninggal. 

"Saksi yang diperiksa ada beberapa, petugas hotel, rekan kerjanya, dan juga kita meminta dari petugas medis yang memberikan bantuan pada saat korban di rumah sakit," ujarnya. 

Keterangan saksi menjadi petunjuk penting, karena pihak keluarga menolak jenazah Dindin diotopsi. 

"Penyebab kematian nanti kita simpulkan setelah semua saksi kita periksa lengkap," ujarnya. 

Sementara, Iman mengatakan bahwa tidak ada luka penganiayaan pada tubuh Dindin. 

Keluarga Menolak Otopsi 

Pihak keluarga menolak jenazah Dindin diotopsi. 

Iman mengatakan, alasan keluarga adalah karena jasad Dindin tidak ditemukan luka penganiayaan, sehingga merasa tidak memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. 

"Tidak dilakukan otopsi karena keluarga menolak. Karena tidak melihat adanya tanda-tanda kekerasan," ujar Iman.

Iman mengatakan, alasan keluarga tidak mengotopsi jenazah Dindin karena tidak ditemukan adanya bekas penganiayaan. 

"Yang jelas bahwa sampai saat ini pada tubuh korban tidak ditemukan tanda tanda kekerasan. Pada saat sebelum meninggal ada penanganan medis atas keluhan yang dirasakan oleh almarhum pada dini hari," ujarnya. 

Dari informasi yang dihimpun, jenazah Dindin sudah dimakamkan di kampung halamannya di Kampung Jatake, Desa Mekarjaya, Panggarangan, Lebak, pada Minggu (6/9/2020). 


(TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir) 


Subscribe to receive free email updates: