Penangkapan Anggota FPI Pelempar Molotov ke Markas PDIP Diprotes, Ini Kata Pengacara

 

Popnesia.com - Pengacara FPI, Aziz Yanuar, memprotes keras penangkapan terhadap dua anggota FPI terkait kasus dugaan pelemparan bom molotov ke markas PDIP di Bogor. Aziz menilai penangkapan tersebut tak sesuai dengan aturan.

“Mereka asal tangkap, comot, tanpa penjelasan, tanpa didampingi kuasa hukum,” kata Aziz kepada wartawan, Senin (24/8/2020).

Aziz menegaskan semua warga negara berkedudukan sama di depan hukum. Dia meminta polisi tak melanggar aturan.

“Kita ini warga negara pembayar pajak dilindungi undang-undang, tolonglah patuhi itu para aparat kepolisian aparat penegak hukum, patuhi Perkap-nya Kapolri masa nggak dituruti. Kan ada tuh di situ mereka berbagai pelanggaran terkait penangkapan dan penahanan serta hak-hak mereka, di mana harus didampingi kuasa hukum kemudian ada juga KUHAP dilanggar, jadi polisi ini kebiasaan menegakkan hukum dengan melanggar hukum,” ujar dia.

Aziz kemudian menyinggung perbedaan penanganan kasus hukum terhadap kelompok pro pemerintah.

Menurut dia, kasus ini sangat sarat muatan politis.

Aziz Yanuar (Lamhot Aritonang/detikcom)

“Ini berlaku tidak kepada orang-orang yang pro kepada rezim artinya ini jelas bermodus politik kadang pihak propemerintah dan aparat penegak hukum tidak mau dibilang ini politis tapi faktanya demikian. Jika terhadap orang-orang yang kontra-rezim peraturan dilanggar dengan merugikan kepentingan dan hak-hak dari masyarakat. Ketika pro rezim peraturan dilanggar dengan menguntungkan mereka contoh banyak dari penegak hukum tidak memborgol para koruptor misalnya,” tutur Aziz.

Pada Minggu malam kemarin, Aziz bersama pihak keluarga sempat mendatangi Polres Bogor untuk meminta penjelasan atas penangkapan orang-orang yang diduga terlibat pelemparan molotov di markas PDIP.

Namun Aziz tak diperbolehkan masuk oleh petugas tanpa alasan yang jelas.

“Tadi malam kita di depan polres tidak bisa ditemui, padahal itu gedung-gedung negara dibayar masyarakat kita nggak boleh masuk, itu namanya penculikan, orang dikasih masuk akses, keluarganya nggak dikasih masuk,” ujar Aziz.

Seperti diketahui, teror bom molotov terjadi di dua markas PDIP PAC Bogor. Insiden pertama menimpa kediaman pengurus PDIP PAC Megamendung pada Selasa (28/7).

Sehari berselang atau pada Rabu (29/7), teror bom molotov kembali terjadi di sekretariat PAC PDIP Cileungsi Bogor.

Tiap tempat diteror bom molotov. Selain itu, ada tiga kali lemparan di tiap markas partai berlambang banteng itu.

Polisi kemudian menangkap tujuh orang terduga pelaku pelemparan bom molotov itu. Motif pelemparan tersebut tengah didalami.

“Motif masih didalami,” ucap Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Barat Kombes CH Patoppoi via pesan singkat, Senin (24/8).

Menurut dia, ketujuh orang yang kini sudah dijadikan tersangka ini melakukan aksinya di markas PAC Cileungsi. Sementara disinggung ada kaitan dengan markas PAC di Megamendung, dia mengatakan masih didalami.

“Masih didalami,” katanya. (acehsatu)

Subscribe to receive free email updates: