Cerita UAS Harus Turun Pesawat karena Presiden Tak Mau Terbang Bersama 'Teroris'

Popnesia.com - Ustadz Abdul Somad berkesempatan berbincang dengan Imam Shamsi Ali, Imam Of Jamaica Islam Centre, New York, Amerika Serikat.

Dalam live zoom dengan tema "Tantangan dan Peluang Dakwah: Indonesia & US", ada beragam hal yang dibicarakan.

Satu di antaranya terkait penolakan terhadap UAS di beberapa tempat.

Imam Shamsi Ali menyatakan, dirinya teringat kejadian penolakan UAS setelah mendapat kabar UAS yang tak dibenarkan masuk Belanda padahal sudah sampai Bandara.

"Saat di Belanda, katanya UAS sudah sampai di Bandara Belanda dan tidak dibenarkan masuk," ungkap Shamsi Ali.

"Saya teringat kemudian Hongkong. Saya teringat di negeri kita sendiri beberapa tempat kok ustadz ini ada yang seolah nggak mau menerima," katanya.

Shamsi Ali kemudian bertanya, Ustadz Abdul Somad itu menakutkannya dimana?

"Nggak sangar-sangar banget orangnya. Tidak seperti saya. Saya pernah belajar silat. Saya pendekar silat. Bisa ditakutin oranglah kira-kira begitu. Tapi ustadz abdul somad yang ditakuti apa gitu?," katanya.

"Kalau ceramah lucu dan kena, pas gitu. Kenapa justru ada yang menolak sana, menolak sini, itu dimana letaknya itu. Kenapa ada orang yang ketakutan?," ungkapnya.

Menjawab hal itu, UAS menjelaskan kronologi penolakannya di Belanda.

Menurut UAS, saat itu dirinya akan masuk Belanda melalui Swiss.

"Begitu sampai di pos imigrasi, mereka tidak benarkan saya masuk," jelas UAS.

"Ketika saya tanya apa masalahnya, mereka keluarkan secarik kertas, mereka katakan UAS pernah menyampaikan ceramah di Belanda dan UAS punya paspor sudah dicap untuk tak boleh lagi masuk ke Eropa," cerita UAS.

Mendapat jawaban seperti itu, Ustadz Abdul Somad mengatakan bahwa paspor miliknya masih baru.

"Dia minta paspor lama. Paspor lama tidak mungkin saya bawa dan saya tidak pernah masuk eropa, itu yang pertama kali," kata UAS.

Akhirnya setelah lima jam, UAS dideportasi, pulang melalui Thailand kemudian ke Malaysia.

UAS juga menceritakan pengalamannya batal bersilaturahmi ke Inggris.

Menurut UAS, proses pembatalan di UK lebih cepat lagi daripada di Belanda.

"Jadi ketika boarding, pesawatnya Royal Brunie, satu jam setelah check in ternyata langsung terconnect jaringan internasional, pesawat Royal Brunei tak mengizinkan berangkat karena visa saya dicancel," ceria UAS.

UAS mengatakan, begitu juga beberapa bulan sebelumnya di Timor Leste.

Waktu itu sudah terjadwal dirinya akan bertemu dengan Uskup.

"Uskup sudah siap menerima. Kemudian saya akan bertemu Xanana Gusmao, semua sudah OK," katanya.

Begitu sampai di Airport, Ustadz Abdul Somad justru ditahan.

UAS kemudian menanyakan ke pihak Bandara, terkait kapan munculnya pelarangan terhadap dirinya.

"Menurut mereka, dua jam sebelumnya. Dua jam sebelumnya kami diberitahu tak boleh mengizinkan bapak masuk," kata UAS menirukan ucapan petugas.

"Kata saya, tuduhannya apa? Bapak terindikasi ISIS, katanya," ungkap UAS.

Saat menyampaikan hal itu, petugas tersebut tersenyum.

"Dia sambil senyum-senyum karena dia mungkin bayangkan ISIS itu sangar sekali. Ini isisnya kok lucu-lucu," ujar UAS.

UAS akhirnya naik lagi ke pesawat. Saat duduk di pesawat, tak berapa lama pramugari minta dirinya untuk turun.

"Karena ada presiden di pesawat itu mau ke jakarta dia tak mau satu pesawat dengan teroris," kata UAS menceritakan seraya tersenyum.

Akhirnya UAS turun menunggu pesawat berikutnya.

"Saya pulang. Sebagian tim terus melanjutkan perjalanan ke Timor Leste, lalu pulang melalui NTT," ceritanya.

UAS mengatakan, sampai sekarang dirinya tidak tahu apa yang menakutkan dari dirinya sehingga terjadi beberapa kali penolakan.

"Tapi saya kira sampai masanya nanti Allah SWT bukakan," katanya.

"Bisa jadi mereka taubat atau mereka nanti di akhir usianya pensiun cerita pernah dulu menahan Ustadz Abdul Somad sambil ketawa-ketawa, mungkin. Wallahu a'lam," pungkas UAS.pontianaktribun

Subscribe to receive free email updates: