Bukan Main.. Sentimen 'New Normal', Rupiah Jadi Superhero!

 Bukan Main.. Sentimen 'New Normal', Rupiah Jadi Superhero!
Popnesia.com - Nilai tukar rupiah melawan dolar Amerika Serikat (greenback) pada perdagangan sepekan ini (week-on-week/WoW) terapresiasi atau menguat 0,72%. Kini US$ 1 di pasar spot dibanderol Rp 14.575/US$ pada penutupan Jumat (29/5/2020) dari Rp 14.680/US$ pada penutupan akhir pekan lalu (20/4/2020).

Pada perdagangan Jumat kemarin (29/5/2020), nilai tukar rupiah menguat 0,69% dari penutupan sebelumnya di hari Kamis (28/5/2020) kala rupiah dihargai Rp 14.675/US$, mengacu data dari Refinitiv.

Penguatan ini terdorong oleh rencana pemerintah untuk memutar kembali roda perekonomian melalui skenario new normal serta pelonggaran pembatasan wilayah (lockdown) sejumlah negara. Rupiah kini berada di level terkuat sejak 12 Maret lalu, dan membukukan penguatan 3 pekan beruntun.

Sebagai informasi Kamis (21/5) libur Hari Kenaikan Isa Almasih, sementara Jumat (22/5) dan Senin (25/5) libur Lebaran

Sentimen positif lainnya juga datang dari perkembangan vaksin penangkal corona China. Negeri Tirai Bambu akhirnya mempublikasi penelitian soal vaksin corona yang dikembangkannya. Vaksin buatan Beijing Institute Biotechnologies dan CanSino Biological, berhasil memicu terbentuknya antibodi pada puluhan pasien dalam uji klinis tahap awal.

Hasil uji klinis tahap awal ini dipublikasikan di jurnal kesehatan The Lancet pada Jumat lalu (22/5//2020). Vaksin potensial bernama Ad5-nCoV, telah disetujui untuk uji coba manusia pada bulan Maret.

Jika melihat lebih ke belakangan, rupiah sudah menguat dalam 7 dari 8 pekan terakhir. Sejak awal April, rupiah sudah menguat lebih dari 10%. Namun, jika dilihat sejak akhir 2019 hingga hari ini atau secara year-to-date (YTD), rupiah masih melemah 5,01%, akibat kemerosotan tajam di bulan Maret lalu ketika menyentuh level Rp 16.620/US$.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam paparan Perkembangan Ekonomi Terkini mengatakan bahwa nilai tukar rupiah saat ini masih undervalue, dan ke depannya akan kembali menguat ke nilai fundamentalnya, kembali ke level sebelum pandemi penyakit virus corona (Covid-19) terjadi di kisaran Rp 13.600-13.800/US$.

"Ke depan nilai tukar rupiah akan menguat ke fundamentalnya. Fundamental diukur dari inflasi yang rendah, current account deficit (CAD) yang lebih rendah, itu akan menopang penguatan rupiah. Aliran modal asing yang masuk ke SBN (Surat Berharga Negara) juga memperkuat nilai tukar rupiah" kata Perry, Kamis (28/5/2020).

Beberapa indikator makro yang jadi patokan BI dalam memberikan outlook rupiah ke depan ada tiga. Pertama adalah inflasi yang terjaga. BI yang melakukan survey pemantauan harga (SPH) memperkirakan inflasi bulan Mei ini akan rendah di angka 0,09% secara month to month dan 2,21% secara tahunan. Inflasi yang masih terjaga di kisaran 3% plus minus 1% membuat rupiah menguat.

Indikator kedua adalah defisit transaksi berjalan (CAD) yang membaik. BI mencatat CAD pada kuartal pertama tahun ini mencapai minus 1,4% dari PDB, lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Selain itu, Bank Indonesia (BI) melaporkan kenaikan cadangan devisa di bulan April. Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi oleh penerbitan global bond pemerintah. Cadangan devisa Indonesia pada April 2020 tercatat sebesar US$ 127,9 miliar, atau naik US$ 6,9 miliar dari bulan sebelumnya.

Selanjutnya atau ketiga yaitu Gubernur Perry menjelaskan faktor masih menariknya imbal hasil surat utang pemerintah RI masih terbilang menarik dengan imbal hasil (yield) di kisaran 7%. Hal ini membuat masuknya aliran modal asing dalam bentuk portofolio investasi ke SBN dan bisa menopang rupiah yang kecanduan 'hot money'.

BI mencatat pada minggu pertama bulan Mei terdapat inflow tipis sebesar Rp 2,97 triliun. Sementara untuk periode 18-20 Mei, ada inflow ke SBN yang nilainya mencapai Rp 6,15 triliun.CNBCindonesia.com


Subscribe to receive free email updates: