Pernyataan Lengkap Pemerintah soal 227 Kasus Positif Corona dan 19 Meninggal

Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Achmad Yurianto yang juga juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona memberikan keterangan pers di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (6/3/2020). Dalam keterangan persnya Achmad Yurianto menyampaikan sebanyak empat orang dinyatakan suspect virus Corona karena telah melakukan kontak langsung dengan warga Depok yang positif sebelumnya dan mengalami gejala-gejala awal seperti Influenza yang kini tengah diobservasi dan menunggu hasil pasti dari pemeriksan laboratorium. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.
Popnesia.com - Pemerintah kembali memperbarui data kasus positif virus Corona (COVID-19) serta data penunjang lainnya. Total kasus positif saat ini disebutkan 227, dengan rincian 11 orang negatif dan 19 orang meninggal dunia.
Selain itu, juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona, Achmad Yurianto, mengatakan saat ini pemerintah tengah mengkaji tentang pemeriksaan cepat untuk masyarakat terkait COVID-19. Yuri--panggilan karibnya--juga menyebutkan adanya peran sektor rumah sakit swasta dalam penanganan COVID-19.

"Ini yang menggembirakan buat kita sehingga dengan cara ini diharapkan maka deteksi dini penemuan cepat kasus dapat dilakukan dengan maksimal," kata Yuri seperti disiarkan langsung dalam akun resmi YouTube BNPB, Rabu (18/3/2020).


Yuri juga meminta masyarakat tetap tidak panik tetapi waspada. Pemerintah, disebut Yuri, mempersiapkan segala sarana yang dibutuhkan untuk penanganan kasus ini.

Berikut ini pernyataan lengkap terbaru dari pemerintah soal penanganan COVID-19:

Sudah 227 Pasien Positif Corona di RI, 19 Meninggal Dunia:


Pada kesempatan sore ini saya akan menyampaikan beberapa hal terkait dengan update, bukan hanya jumlah tetapi juga tentang kebijakan-kebijakan dan rencana-rencana yang akan dilakukan pemerintah di bidang kesehatan terkait dengan penanggulangan COVID-19.

Yang pertama tadi kami di siang hari kami sudah bertemu dengan Persatuan Rumah Sakit Indonesia atau Persi dan kita mendiskusikan beberapa hal di antaranya adalah peran sektor swasta, ada 3 rumah sakit swasta yang sudah mendedikasikan seluruh kapasitas tempat tidurnya dengan total sekitar 300 tempat tidur untuk penanganan kasus COVID-19 di antaranya adalah:

- RS Siloam Kelapa Dua
- RS Mitra Keluarga Jatiasih
- RS Hermina Karawang

Ketiga rumah sakit ini nanti hanya akan didedikasikan semua kasus COVID-19, sementara kasus-kasus yang lain akan dipindahkan ke rumah sakit yang lain.

Kemudian jejaring laboratorium yang dapat digunakan untuk melakukan pemeriksaan virus COVID-19 ini adalah jejaring laboratorium Siloam, jejaring laboratorium Kalbe, dan jejaring laboratorium Bunda Group.

Ini yang menggembirakan buat kita sehingga diharapkan dengan cara ini diharapkan maka deteksi dini penemuan cepat kasus dapat dilakukan dengan maksimal.

Kemudian asosiasi rumah sakit swasta dan kemudian perhimpunan seluruh rumah sakit Indonesia memiliki komitmen yang tinggi untuk mendedikasikan seluruh sarana prasarananya untuk digunakan masyarakat di dalam kaitan untuk mendapatkan layanan, perawatan, pemeriksaan COVID-19 ini dengan cara menyiapkan sarana prasarana yang ada, kemudian termasuk laboratorium untuk pengambilan sampel sehingga kita tidak lagi terpaku pada rumah sakit-rumah sakit rujukan yang ditentukan tetapi sektor swasta secara besar, secara bersungguh-sungguh akan ikut melaksanakan.

Kemudian di dalam pertemuan tadi saya juga sudah mendapatkan berita baik bahwa staf Rumah Sakit Mitra Keluarga Depok di mana kasus 01-02 dulu pertama kali dirawat di sana dan kemudian mereka memiliki singgungan langsung yang dekat sebanyak 71 orang, sudah selesai melaksanakan masa observasi karantina 14 hari dan alhamdulillah seluruhnya sehat dan tidak ada satu pun yang positif, saat ini mereka seluruhnya sudah kembali berfungsi dan melaksanakan tugasnya seperti hal-hal yang sebelumnya.

Oleh karena itu ini menjadi sebuah berita baik untuk kita sehingga pelaksanaan pemeriksaan akan dilaksanakan di semua fasilitas rumah sakit swasta yang memang sudah dari awal memiliki komitmen untuk melaksanakan.

Kemudian yang kedua, kami tadi juga rapat di pagi hari bersama Menteri Kesehatan dan jajaran untuk mulai melakukan kajian terkait dengan rapid test seperti apa yang dilaksanakan di negara lain, perlu dipahami rapid test ini memiliki cara yang berbeda dengan tes yang selama ini kita gunakan karena rapid test akan menggunakan spesimen darah, tidak menggunakan lapisan tenggorokan lapisan kerongkongan tapi menggunakan serum darah yang diambil dari darah, salah satu keuntungannya adalah bahwa ini tidak membutuhkan sarana pemeriksaan laboratorium pada bio security level 2, artinya ini bisa dilaksanakan di hampir semua laboratorium kesehatan rumah sakit yang ada di Indonesia.

Hanya permasalahannya adalah bahwa karena yang diperiksa adalah immunoglobulin maka kita membutuhkan reaksi immunoglobulin dari seseorang yang terinfeksi paling tidak seminggu, kalau belum terinfeksi atau terinfeksi kurang dari seminggu kemungkinan pembacaan immunoglobulinnya akan memberikan gambaran negatif.

Hal ini harus diiringi dengan pemahaman yang didapatkan oleh masyarakat tentang kebijakan isolasi diri karena pada kasus yang positif dengan pemeriksaan rapid test dan kemudian tanpa gejala atau memiliki gejala yang minimal ini indikasinya adalah harus melaksanakan isolasi diri, dilaksanakan di rumah, tentunya dengan monitoring yang dilaksanakan puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat yang sudah disepakati bersama.

Oleh karena itu tanpa kesiapan untuk memahami dan mampu melaksanakan isolasi diri maka tentunya semua kasus positif akan berbondong-bondong ke rumah sakit padahal belum tentu membutuhkan layanan perawatan rumah sakit.

Kita harus memaknai kasus positif dari pemeriksaan rapid ini dimaknai bahwa yang bersangkutan memiliki potensi untuk menularkan penyakitnya kepada orang lain. Oleh karena itu yang paling penting di dalam konteks ini adalah bagaimana melakukan isolasi diri. Petunjuk, pedoman tentang bagaimana melaksanakan isolasi diri sudah kita buat, pada tahapan ini perlu melakukan sosialisasi dan kita bersyukur sudah ada launching dari BNPB terkait dengan informasi-informasi yang kita jadikan satu.

Oleh karena itu, kita juga berharap masyarakat juga semakin tenang, semakin memahami tentang apa yang harus dilakukan dalam kaitan penanganan ini.

Kemudian yang ketiga, perkembangan secara keseluruhan, memang pada saat ini sedang akselerasi untuk menjadi semakin naik jumlah penderita. Ini kita maklumi dan ini juga menjadi gambaran yang lazim di beberapa negara lain terkait dengan fase-fase awal dari kasus munculnya kasus positif COVID ini. Kita akan mendapatkan gambaran yang semakin naik dan pada saatnya nanti kita prediksikan mudah-mudahan tidak terjadi terlalu panjang, kita berharap pada setelah dilaksanakan kegiatan masyarakat diharapkan pada bulan April kita sudah mulai melihat hasilnya dan kita berharap ini sudah mulai terkendali, tetapi saat sekarang memang betul sedang naik karena 2 hal, yang pertama bahwa contact tracing kita lakukan secara intens sehingga kita semakin banyak menemukan kasus ini, yang kedua adalah kesadaran dari seluruh masyarakat bahwa mereka semakin peduli, mereka semakin peduli dan semakin mau untuk diperiksa.

Oleh karena ini sebuah tantangan yang besar untuk kita bersama pada saat keinginan masyarakat semakin meningkat tentunya sarana fasilitas untuk agar mereka bisa melalui laboratorium harus kita tingkatkan, kalau tidak demikian maka akan terjadi gap dan ini akan menimbulkan permasalahan, ini yang akan kita lakukan di dalam minggu-minggu ke depan.

Beberapa waktu lalu, kita sudah melakukan pemeriksaan COVID-19 pada beberapa pejabat tinggi juga bahkan juga perangkatnya, sekali lagi pemeriksaan ini sifatnya general check-up, oleh karena itu bukan hak kami untuk merilis, karena hasil general check-up adalah hak dari masing-masing personel yang kita periksa, oleh karena itu hasilnya sudah kami berikan kepada masing-masing yang bersangkutan dan beliau juga sudah tahu apa yang harus dilakukan menyikapi hasil yang diberikan, kami tidak akan pernah mengungkap tentang hasil ini, karena ini sifatnya general chekc-up kecuali kalau pasien, penderita memang kita akan hitung itu, oleh karena itu ini harap dipahami, ini bukan masalah apa-apa, tetapi memang prosedurnya seperti itu, ini adalah satu general check-up yang harus kita laksanakan bersama-sama.

Yang terakhir kami akan menyampaikan tentang perkembangan kasus positif yang kami catat dan kemudian akan kami laporkan pada periode tanggal 17 pukul 12.00 sampai dengan tanggal 18 Maret pukul 12.00, ini pelaporan kami memang menggunakan rincian waktu seperti itu.

Kemarin sampai dengan pukul 12.00 tanggal 17 sudah kami laporkan ke masyarakat semuanya bahwa total kasus kita adalah 172, pada perkembangannya tanggal 17 setelah pukul 12.00 sampai tanggal 18 ada beberapa penambahan yang kami rincikan sebagai berikut:

Di Provinsi Banten kita menemukan lagi 4 kasus positif
Di DI Yogyakarta kita menemukan lagi 1 kasus positif
Di DKI Jakarta kita temukan lagi 30 kasus positif
Jawa Barat kita temukan 12 kasus positif
Jawa Tengah 2 kasus positif
Sumatera Utara 1 kasus positif
Lampung 1 kasus positif
Riau 1 kasus positif
Kalimantan Timur 1 kasus positif

Kemudian dari proses penyelidikan epidomologi yang kita lakukan kemudian dari kemandirian yang bersangkutan, jadi ini bukan pasien rumah sakit yang datang dan kemudian kita periksa, kita temukan ada 2 kasus positif.

Sehingga pada periode 17 Maret pukul 12 sampai 18 Maret pukul 12 ada penambahan sebanyak 55 kasus positif sehingga total keseluruhan sampai dengan kami melaporkan pada pukul 12.00 hari ini adalah 227 kasus positif.

Kemudian jumlah kasus yang sudah menjadi negatif sudah sembuh dan bisa dipulangkan secara akumulatif kita laporkan adalah 11 kasus bisa dipulangkan, rinciannya adalah:

1 kasus dari Banten, sudah bisa pulang
kemudian Jakarta 9 kasus
kemudian dari Jawa Barat 1 kasus

Sehingga total yang sudah sembuh dan bisa dipulangkan adalah 11 kasus.

Namun juga kami laporkan kasus yang meninggal terdapat masalah dalam pendataan karena setelah kami melakukan ricek tadi pagi dan kemudian berkoordinasi dengan seluruh rumah sakit di Indonesia yang merawat kasus ini maka ternyata beberapa rumah sakit belum melaporkan kasus kematian sejak tanggal 12 Maret sampai dengan tanggal 17, oleh karena itu data sekarang sudah kita upgrade sudah kita perbaiki maka akumulatif kasus meninggal sampai dengan tanggal 18 Maret pukul 12 sebagai berikut:

Untuk Provinsi Bali ada 1 yang meninggal
Provinsi Banten ada 1 yang meninggal
DKI Jakarta ada 12 yang meninggal
Jawa Barat ada 1 yang meninggal
Jawa Tengah ada 2 yang meninggal
Jawa Timur ada 1 kasus yang meninggal
Sumatera Utara ada 1 yang meninggal

Sehingga total kasus yang meninggal keseluruhan adalah 19.

Simpulan yang kami sampaikan untuk posisi saat ini jumlah akumulatif kasus positif 227, jumlah akumulatif penderita yang sudah sembuh dan boleh pulang 11, jumlah penderita yang meninggal akumulatif sampai dengan tanggal 18 Maret jam 12 adalah 19.

Ini adalah data terakhir yang kita miliki dan besok akan kita upgrade lagi data ini dan data ini pun bisa dilihat pada website yang sudah disiapkan BNPB.detik

Subscribe to receive free email updates: