Viral Dokter Zaidul Akbar, Makan Babi Jadi LGBT

Hasil gambar untuk Dokter Zaidul Akbar"
Popnesia.com - Sebuah video viral di media sosial, isi di dalamnya seorang pria disebutkan adalah dr. Zaidul Akbar mengatakan kebanyakan makan babi akan jadi LGBT atau kepanjangan dari lesbian, gay, biseksual, dan transgender.

Terutama berikut ini bagian dari video yang memicu kontroversi. "Kenapa orang barat banyak yang jadi LGBT, gay, lesbi? Karena kebanyakan makan babi. Babi kan begitu perilakunya. Mereka tidak ada yang paham dari sisi ini. Teman-teman pernah lihat enggak babi. Babi itu tidak punya selera atau semangat juang, terutama babi jantan. Maaf, katakanlah babi perempuannya dia, pasangan dia diganggu, dia tidak ada cemburu sama sekali. Akhirnya mereka begitu kan kelakuannya. Makanan mempengaruhi perilaku."


Satu di antara yang mengomentari video tersebut adalah dosen Universitas Indonesia Ade Armando di akun Facebook, Sabtu, 11 Januari 2020. "Dokter kok nyebarin kebohongan gini: makan babi mengakibatkan orientasi seks LGBT. Dokter ini lulusan mana sih? Atau dia beneran dokter gak sih?"

Kenapa orang barat banyak yang jadi LGBT, gay, lesbi? Karena kebanyakan makan babi.

Berdasar penelusuran dr. Zaidul Akbar lulusan kedokteran umum di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, angkatan 1997 lulus 2003. Ia pemilik akun Instagram @zaidulakbar dengan lebih dari satu juta pengikut.

Pakar kesehatan dr. Adrian Setiaji dikutip dari DokterSehat menyebutkan makanan tidak bisa semudah itu mempengaruhi gen atau orientasi seksual seseorang. LGBT lebih dipengaruhi faktor gen dan lingkungan. Menyalahkan makanan seperti daging babi bisa menyebabkan perilaku LGBT adalah tindakan tidak tepat.

Senada dengan itu, dr. Eko Budhidarmaja juga menyebut faktor lingkungan bisa mempengaruhi orientasi seksual, pemicunya bukan makanan, melainkan lebih ke pengalaman seksual tertentu atau kenyamanan berada di komunitas homoseksual.

Penelitian Norwegian University of Science and Technology (NTNU) pada September 2011 menyebutkan makanan memang bisa mempengaruhi gen manusia, namun hal ini lebih ke risiko terkena penyakit seperti penyakit kardiovaskular, kanker, diabetes tipe 2, dan demensia. Penelitian ini sama sekali tidak menyebut makanan bisa mempengaruhi orientasi seksual seseorang. 

Tentang kebanyakan makan babi, pakar kesehatan menyebutkan bisa meningkatkan risiko beberapa masalah kesehatan. Di antaranya menyebabkan kanker kolorektal karena daging babi olahan memiliki kandungan yang bisa memicu datangnya kanker yang menyerang usus besar ini.

Risiko lain adalah memicu penyakit hati. Kandungan senyawa N-nitroso di dalam daging babi yang diolah dalam suhu tinggi bisa meningkatkan risiko kanker hati dan sirosis hati. Bisa meningkatkan risiko hepatitis E apabila sering mengonsumsi daging babi, apalagi hati babi, bisa jadi akan tertular virus hepatitis E yang sangat berbahaya. Daging babi juga bisa menyebabkan cacingan, apalagi jika daging sudah terkontaminasi cacing jenis trichinella ini tidak diolah hingga benar-benar matang.

Dalam beberapa kepercayaan agama Abrahamik, babi tidak boleh disentuh atau najis, dianggap haram untuk dikonsumsi. Seperti tertulis dalam kitab suci agama Islam Alquran. Babi juga haram dikonsumsi dalam agama Yahudi dan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di agama Kristen. [tagar.id]


Subscribe to receive free email updates: