Ayah Korban Teror Rohis SMAN 1 Gemolong Sragen Kesal Sekolah Tak Peduli, Mario: Copot Kepala Sekolah


Popnesia.com - Intimidasi siswi tak berjilbab di SMA Negeri 1 Gemolong belum berakhir. 

Beberapa hari lalu pihak sekolah mendatangi kediaman orang tua Z dan meminta membuat surat damai. 

Agung Purnomo kepada awak media menyampaikan belum adanya penyelesaian komplain bullying terhadap anaknya dari pihak sekolah. 

"Sekolah seakan tidak peduli dengan anak kami meski sudah tidak masuk sekolah beberapa hari, tidak ada perhatian dari pihak sekolah. Malah pihak sekolah meminta kami membuat surat damai atau penyelesaian secara kekeluargaan padahal kami belum pernah dikasih penyelesaiannya seperti apa," terang Agung, Minggu (12/1/2019). 

Dirinya juga menyayangkan keberadaan dinas yang hingga saat ini tidak pernah hadir dalam komplain yang dia ajukan. 

"Kami ke sekolah saya info ke dinas sejak Sabtu lalu, Senin ke sekolah hingga sekarang belum ada yang respon," lanjut dia. 

Pihaknya juga mengecam keras perlakuan kepala sekolah dan guru -guru serta dinas yang tidak cepat mencari solusi sehingga putrinya belum mendapatkan haknya lagi untuk sekolah dengan jaminan tanpa diskriminasi dan tekanan.

Agung juga meminta kepada siswa dan wali murid lain yang sekiranya pernah mendapatkan perlakuan yang sama seperti anaknya di sekolah untuk berani bersuara. 

"Kami sebagai orang tua hanya ingin memastikan sekolah dan dinas menjamin anak kami mendapatkan pendidikan yang baik dan merdeka dalam berekspresi dan bersosialisasi," kata dia. 

Sementara itu, Mario Prakoso Sekretaris umum Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IMM Jateng mencurigai insiden seperti ini sudah banyak terjadi namun belum ada siswa dan orang tua yang berani untuk melaporkan kejadian tersebut. 

Dia juga meminta Gubernur Jateng Ganjar Pranowo agar menanggapi serius kejadian ini dan menyelesaikan masalah ini. 

Mario juga meminta kepala SMA Negeri 1 Gemolong agar dicopot dari jabatannya. 

"Kepala SMA Negeri 1 Gemolong wajib dicopot karena kasus ini terdapat banyak masalah bullying, radikalisme, intervensi otoritas tubuh perempuan dan ternyata sekolah malah tidak memberikan perlindungan dan rasa aman kepada siswa bagaimana siswa bisa belajar dengan baik dan orang tua dengan ikhlas melepaskan anak untuk bersekolah?," tegas dia. 

Dia juga meminta guru-guru yang terkait dalam kasus ini agar ikut dimutasi. 

Menurutnya, ada sistem rohis yang disetujui para guru. 

Jika hal ini tidak diubah, kata dia maka multikulturalisme dan kebhinekaan yang dibangun bangsa Indonesia tidak akan pernah bisa terwujudkan di SMA Negeri 1 Gemolong. 

"Kami juga mencurigai ini upaya cuci tangan dan penggiringan opini kepala sekolah dan dinas bahwa telah terjadi damai antara pihak sekolah dan orang tua," pungkasnya. (tribunnews) 

Subscribe to receive free email updates: