Usai Ditetapkan Tersangka, Veronica Koman Tetap Berkicau soal Papua di Twitter, Ini Kicauannya


Popnesia.com - Nama Veronica Koman menjadi pembahasan publik usai ditetapkan sebagai tersangka terkait isu Papua oleh penyidik Ditkrimsus Polda Jawa Timur, Rabu (4/9/2019).

Tak lama setelah ditetapkan sebagai tersangka, Veronica Koman tetap aktif di media sosial, terutama Twitter.

Lewat akun twitternya @VeronicaKoman, Rabu (4/9/2019) sore, aktivis kelahiran Medan, Sumatera Utara, itu masih melayangkan kicauan terkait isu Papua.

Cuitan terakhir Veronica dalam bahasa Inggris berbunyi seputar penangkapan warga Papua Barat karena membagikan selebaran tentang memerangi rasisme.

“4/9/19 Merauke, West Papua. Around 20 West Papuans arrested for distributing leaflets on fighting racism,” demikian kicauan Veronica Koman.

Tak sampai satu jam, cuitan Veronica mendapat puluhan like dan ritwit (RT).

Tak lupa juga puluhan komentar baik yang mendukung maupun yang mengkritiknya.

Berikut beberapa tanggapan netizen atas komentar terbaru Veronica di twitter.

@moguri_ramen: Biarin aja keliatan kok pendidikannya yang jawab2in twit pendukungmu, ham harus ditegakan. Ancaman polisi adalah hal receh yang dihadapi para pejuang keadilan. Jangan padam!

@RintoP9: HAM buat aparat kemana?

@danzfikd: ga bs tdr pulak... ngaku aktivis HAM, giliran Aparat TNI AD ditembak KKB, bungkam dia

@SingerRoseL: Kampret pemecahbelah bangsa, shame on you.


Pantauan di Twitter, hampir seluruh twit Veronica Koman berisi seputar Papua dan Papua Barat.

Dalam beranda akun twitternya Veronica mengatasnamakan human rights lawyer atau pengacara hak asasi manusia.

Hanya saja twit yang dibagikan Veronica cenderung tentang Papua sebagai korban dan keinginan Papua merdeka dari Indonesia.

Ia misalnya membagikan twit beberapa foto warga Papua kena panah

Padahal, aparat keamanan TNI dan Polri yang jadi korban kelompok bersenjata dan kena panah juga ada.

Namun sama sekali tak pernah dibagikan Veronica.

Soal pembangunan Papua, harga BBM yang kini sudah sama dengan Jawa, juga tak terlihat di akun Veronica Koman.

Pada saat kerusuhan Papua, akun Veronica sangat aktif. Polisi pun menganggap apa yang dibagikannya sebagai provokasi.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, Veronica Koman saat ini telah ditetapkan sebagai tersangka akibat provokasi yang dilakukannya melalui media sosial terkait Papua.

"Kalau VK kan masih WNI. Karena keberadaannya di luar negeri, maka nanti dari Interpol akan membantu untuk melacak yang bersangkutan, sekaligus untuk proses penegakan hukumnya," kata Dedi Prasetyo di Gedung Bareskrim Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (4/9/2019).

Menurut keterangan polisi, konten yang disebarkan Veronica bersifat provokatif dan berita bohong atau hoaks.

Saat ini, penyidik Polda Jawa Timur bersama Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri masih mendalami jejak digital VK.

Berdasarkan hasil sementara, sebagian konten diduga disebarkan dari Jakarta dan sebagian di luar negeri.

"Ada beberapa jejak digital yang masih didalami, masih ada yang didalami di Jakarta dan beberapa yang memang ada di luar negeri. Itu masih didalami laboratorium forensik digital," tutur Dedi.

Sebelumnya, pada Rabu siang, penyidik Ditreskrimsus Polda Jawa Timur menetapkan seorang aktivis perempuan bernama Veronica Koman sebagai tersangka, karena disebut aktif melakukan provokasi melalui media sosial tentang isu-isu Papua.

Kapolda Jatim, Irjen Luki Hermawan mengatakan, saat aksi protes perusakan Bendera Merah Putih di asrama mahasiswa Papua, Surabaya, Veronica Koman diduga berada di luar negeri.

"Yang bersangkutan sendiri tidak ada di lokasi saat aksi protes bendera di Asrama Papua Surabaya 16 Agustus lalu. Saat itu dia dikabarkan berada di luar negeri," terang Luki.

Namun meski tidak ada di lokasi, Veronica Koman melalui akun media sosialnya sangat aktif mengunggah ungkapan maupun foto yang bernada provokasi. Sebagian unggahan menggunakan bahasa Inggris.

Luki menyebut beberapa postingan bernada provokasi seperti pada 18 Agustus 2019, "Mobilisasi aksi monyet turun ke jalan untuk besok di Jayapura",

Ada juga "Moment polisi mulai tembak asrama Papua. Total 23 tembakan dan gas air mata".

Selain itu, juga ada unggahan "Anak-anak tidak makan selama 24 jam, haus dan terkurung disuruh keluar ke lautan massa".

Lalu, "43 mahasiswa Papua ditangkap tanpa alasan yang jelas, 5 terluka, 1 terkena tembakan gas air mata".

Veronica Koman dijerat sejumlah pasal pada empat undang-undang yang berbeda, yakni UU ITE, UU 1 tahun 46, UU KUHP pasal 160, dan UU 40 tahun 2008.

Siapa sosok Veronica Koman?

Veronica Koman merupakan pengacara HAM sekaligus pendamping mahasiswa Papua di Surabaya.

Veronica Koman Liau lahir di Medan pada 14 Juni 1998 dan menempuh pendidikan di salah satu universitas swasta terkenal di Jakarta.

Veronica Koman aktif sebagai aktivis dan merupakan pengacara publik yang kerap berhubungan dengan isu-isu Papua, pengungsian internasional dan pencari suaka.

Dalam hal isu pengungsi dan pencari suaka, banyak klien Veronica Koman yang berasal dari Afghanistan dan Iran yang terdampar di Indonesia.

Veronica Koman membantu mereka untuk mendapatkan status pengungsi sesuai dengan hukum pengungsi internasional di UNHCR (lembaga PBB yang menaungi pencari suaka dan pengungsi).

Nama Veronica Koman mulai mencuat pada 2017 lalu. Kala itu Veronica Koman tampil sebagai pembela Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat terjerat kasus penistaan agama.

Saat orasi membela Ahok di Rutan Cipinang, Veronica Koman menyebut bahwa rezim Jokowi lebih kejam dibanding era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Veronica pun dilaporkan ke polisi. Laporan itu tercatat dalam Nomor: TBL/2314/V/2017/PMJ/Dit.Reskrimum.

Orasi itu pun bikin geram Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo. Tjahjo meminta Veronica Koman menyampaikan maaf dan memberikan klarifikasi atas pernyataannya.

Kini, Veronica Koman kembali menjadi sorotan setelah menjadi tersangka atas dugaan melakukan provokasi terkait gejolak Papua.(*)

tribun medan

Subscribe to receive free email updates: