Terkait Aksi di Asrama Mahasiswa Papua, Tri Susanti Jalani Pemeriksaan di Polda Jatim

Hasil gambar untuk tri susanti caleg gerindra
Popnesia.com - Tri Susanti alias Susi, salah seorang pengurus Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan dan Putra-Putri TNI/Polri (FKPPI) Surabaya yang menjadi koordinator lapangan (korlap) aksi protes penurunan dan pembuangan Bendera Merah Putih di halaman asrama mahasiswa Papua, di Jalan Kalasan, Tambaksari, Surabaya, menjalani pemeriksaan penyidik Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jatim di Surabaya, Selasa (27/8/2019).

Dalam pemeriksaan sekitar 11 jam itu, Susi mengaku harus menjawab sekitar 28 pertanyaan penyidik sejak mulai diperiksa Senin (26/8/2019) pukul 15.00 WIB hingga Selasa (27/8/2019) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB. Susi diperiksa terkait dugaan pelanggaran Pasal 28 Ayat 2 UU ITE tentang Ujaran Kebencian.

“Polda Jatim sedang mendalami dugaan ujaran kebencian yang diduga dilakukan klien saya, Tri Susanti melalui grup WhatsApp (WA),” ujar Sahid, penasihat dan kuasa hukum Tri Susanti menjawab pertanyaan wartawan, Selasa. Menurut dia, Tri Susanti diperiksa untuk menjawab sebanyak 26 pertanyaan penyidik. Ia diperiksa bersama lima orang anggota organisasi massa (ormas) lainnya.

Penyidik, kata Sahid, mendalami adanya ujaran kebencian yang diduga dilakukan Tri Susanti melalui grup WhatsApp (WA). “Tetapi dalam bukti rekamnan digital yang ada, tidak ada ujaran kebencian yang dilakukan klien kami,” ujar Sahid. Menurut dia, dirinya yakin kliennya bebas dari dugaan pelanggaran hukum jika disebut-sebut sebagai penyebar ajakan melalui pesan broadcast yang berisi ujaran kebencian. Dalam pesan broadcast yang dibuat Susi, cenderung menggunakan susunan kalimat yang biasa dan sama sekali tidak berpretensi negatif.

“Nggak ada (ujaran kebencian) itu. Kita yakin nggak ada, juga bahasanya yang dipakai Susi juga standar-standar aja,” tandas Sahid sambil menyebutkan kalimat WA Susi yang ditujukan kepada rekan-rekannya yang diketahui nomor telepon WA-nya untuk memastikan informasi perusakan bendera Merah Putih dengan mendatangi Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan, Surabaya. Kalimatnya adalah, ‘Ayo rekan-rekan audiensi untuk diminta pasangkan bendera di Asrama Mahasiswa Papua,’ kutip Sahid. “Jadi nggak ada yang provokatif,” tandas Sahid lagi.

Ia membenarkan, Tri Susanti yang semula menjadi salah satu pengurus FKPPI Surabaya oleh pimpinannya dicopot dari jabatannya sebagai wakil ketua karena aksinya disebut tanpa sepengetahuan organisasi. “Polisi mendalami dua kasus sebagai buntut kerusuhan di Papua. Polda Jatim mendalami dugaan kasus ujaran kebencian Pasal 28 Ayat 2 UU ITE. Dalam kasus tersebut sudah ada tujuh orang saksi yang diperiksa, termasuk korlap aksi Tri Susanti. Sedangkan kasus lainnya, Polrestabes mendalami dua orang penghuni asrama mahasiswa Papua yang diduga merusak tiang bendera dan kemudian membuang Bendara Merah Putih (bersama tiangnya yang dirusak) itu ke selokan.

Dari temuan fakta yang dikemukakan kliennya, Sahid yakin kliennya tidak terbukti sebagaimana yang disangkakan melanggar Pasal 28 ayat 2 yang intinya adalah untuk mengajak seseorang berbuat onar, berita bohong atau menyebar kebencian, ras atau golongan atau kelompok.

Nggak ada itu, katanya sambil membenarkan, bahwa kliennya bersama sejumlah rekan-rekan ormasnya mendatangi Muspika (Musyawarah Pimpinan Kecamatan) Tambaksari guna beraudiensi serta memastikan agar Sang Saka Merah Putih terpasang di setiap kawasan di Tambaksari, tak terkecuali di asrama mahasiswa Papua di Jalan Kalasan, Surabaya.

Ajakan itu tujuannya untuk berkumpul dan berangkat ke kantor kecamatan, kelurahan dan rukun warga (RW), agar meminta warga termasuk penghuni asrama untuk memasang bendera, bukan ngajak teman-temannya memasang bendera. Ajakan kepada massa ormas itu dibuat Susi melalui broadcast pesan. Saat itu, lanjut Sahid, Susi beserta beberapa massa ormas telah berada di dekat kawasan Jalan Kalasan. Setelah memastikan ternyata bendera merah putih telah dipasang. Susi beserta beberapa massa ormas, batal beraudiensi. Mereka kemudian hanya berkumpul di sebuah warkop dan selanjutnya kembali pulang ke rumah masing-masing.

Namun, Susi kemudian menerima kabar bahwa letak tiang Bendera Merah Putih itu bergeser, tidak berada di lokasi semula. Bahkan pada Jumat (16/8/2019), ia menerima pesan WA lengkap dengan fotonya, yang menunjukkan tiang bendera dalam kondisi dirusak bengkok menjadi tiga dan bahkan bendera itu terlihat ada di selokan. “Nggak ada itu klien kami melakukan ajakan atau ujaran kebencian dan rasis seperti yang digembar-gemborkan,” tandas Sahid.

Sementara itu, Polrestabes Surabaya mendalami dugaan kasus penurunan dan dilanjutkan dengan dugaan pembuangan  Bendera Sang Merah Putih ke selokan. Dalam kasus yang terjadi, Jumat (16/8/2019) tersebut sudah ada 64 saksi yang diperiksa dari kelompok penghuni asrama mahasiswa Papua di Jalan Kalasan, Surabaya, serta saksi mata warga setempat.

Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hernmawan mengatakan, dalam pemeriksaan saksi-saksi, ada dua orang saksi yang melihat dua orang penghuni asrama mahasiswa itu yang merusak bendera. Setelah merusak dan membuang bendera itu, kedua pelaku buru-buru masuk kembali ke asrama. Namun, kedua saksi tersebut tidak mengetahui nama dan sosok kedua orang tersebut karena tidak mengenalnya.



Sumber: Suara Pembaruan

Subscribe to receive free email updates: