Rp1juta 'Terbuang' saat Rayakan Idul Adha, Panitia Kurban Menyesal Ikut Imbauan Gubernur Anies


Popnesia.com - Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, untuk Idul Adha tahun ini, Pesantren Al-Muta'allimin di Jalan Kemandoran Pluis, Jakarta Selatan, memutuskan untuk tidak menggunakan kantong plastik. 

Hal itu mereka lakukan karena mengikuti imbauan Gubernur Jakarta Anies Baswedan yang sejalan dengan kampanye "Rayakan Idul Adha Tanpa Kantong Plastik" dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 

Namun, pengasuh pondok Pesantren Al-Muta'allimin, Muhammad Faisol, mengaku malah menyesal telah menggunakan besek dan tahun depan akan kembali menggunakan kantong plastik. 

"Tahun ini iya karena sudah lewat ya sudah, tetapi tahun depan akan berpikir-pikir lagi, kemungkinan besar kembali pakai kantong plastik yang murah biayanya," ujarnya saat ditemui Kompas.com di Pesantren Al-Muta'allimin, Selasa (13/8/2019). 

"Ide ini sebenarnya bagus untuk mengurangi pencemaran lingkungan dari sampah. Tapi tidak efektif dan solusinya kurang realistis," kata Faisol lagi. 

Dia mengeluhkan harga besek (wadah dari anyaman bambu) untuk daging kurban yang jauh lebih besar daripada menggunakan kantong plastik. 

Pihak panitia kurban membeli persiapan wadah bambu (besek) sekitar 900 buah. Harga per 100 buah wadah tersebut dibanderol Rp 150.000. Bila ditotal, biayanya mencapai Rp 1.350.000 untuk besek saja. 

Belum cukup disitu, mereka juga masih perlu membeli daun pisang untuk menjaga agar daging kurban tidak jatuh dari besek. 

"Kalau tidak pakai daun pisang, ya dagingnya bakal jatuh. Daun pisang itu enggak dikasih tapi beli, meski aku lupa harganya. Tapi yang jelas pengeluaran duitnya nambah lagi," jelas Faisol. 

Lantas, pada hari Idul Adha, panitia mendapati bahwa mereka hanya membutuhkan 800 wadah, sehingga 100 sisanya masih belum pasti mau digunakan sebagai apa. 

Selain itu Faisol juga meyakini bahwa tidak banyak orang yang mau menggunakan besek itu kembali. 

Artinya, uang Rp 1 juta lebih itu terbuang ke tempat sampah dalam waktu satu hari. 

Faisol menjelaskan bahwa meskipun yang berkurban banyak yang orang kaya, mereka tetap harus menekan biaya karena yang dikumpulkan tetaplah uang sosial masyarakat. 

Lagipula di luar hewan kurban dan wadah, ada biaya-biaya lain yang harus dikeluarkan untuk menyukseskan acara pemotongan kurban, seperti biaya potong, konsumsi panitia dan pembungkusan. 

Jika harga keranjang besek itu bisa bersaing dengan harga kantong plastik, atau ada alternatif lainnya yang juga lebih murah dari besek ini, Faisol percaya bahwa akan ada banyak yang beralih dari kantong plastik. 

Jika pemerintah ingin kampanye ini sukses pada tahun depan, baik di skala nasional ataupun regional, Faisol berpendapat bahwa pemerintah harus menjadi lebih tegas dan mulai memikirkan solusi alternatif plastik yang lebih baik bagi masyarakat. 

"Sedikit sekali yang melaksanakan himbauan itu, sedangkan sebagian besar tetap saja menumpuk sampah. Bahkan bukan cuma satu hari saat Idul Adha. Setiap hari ketika mereka belanja dari swalayan ataupun supermarket besar (juga menumpuk sampah plastik)," ujarnya. 

Dia pun mengatakan, saya mendukung program ini karena baik. 

Tetapi, jika tidak ada alternatif lain yang lebih murah. 

Panitia kurban di sini kembali pakai kantong plastik saja. 

Menanggapi keluhan Fasol, Manager Communication Conservation dari World Wildlife Fund (WWF)-Indonesia, Dewi Satriani, memberikan beberapa alternatif kantong plastik yang ramah lingkungan dan murah. 

Tanggapan ahli 

Imbauan untuk tidak menggunakan kantong plastik terus digalakkan sejak tahun 2016 hingga saat ini, khususnya saat pembagian daging kurban pada Idul Adha 2019 kemarin. 

Namun, penggunaan wadah lain (besek) untuk menggantikan kantong plastik membuat sebuah pesantren di Jakarta Selatan menyesal karena biaya wadahnya jauh lebih besar daripada membeli plastik. 

Lantas, apa alternatif dari kantong plastik yang ramah lingkungan dan juga murah untuk digunakan oleh masyarakat? 

Menjawab hal itu, Manager Communication Conservation dari World Wildlife Fund (WWF)-Indonesia, Dewi Satriani, menyampaikan bahwa sebetulnya ada banyak alternatif yang bisa masyarakat gunakan untuk menggantikan kantong plastik tersebut. 

Dewi mengakui bahwa memang pada dasarnya, masyarakat sekarang cenderung lebih memilih plastik karena selain mudah dijumpai, plastik anti air dan murah harganya. 

"(Tapi) jangan nilai sekarang ini, plastik yang murah itu bisa digantikan dengan subtitusinya yang lebih alami. Jika dipikir jangka panjangnya, barang alami itu lebih murah karena tidak ada efeknya panjangnya," ujar Dewi saat dihubungi Kompas.com, Selasa (13/8/2019). 

Dia mencontoh wadah atau tas yang terbuat dari bahan-bahan bio kredibel atau bahan alami, seperti bambu (anyaman), daun pisang, keranjang dari rotan ataupun kain. 

Untuk mendapatkannya, Dewi mengakui bahwa masyarakat harus lebih berusaha dan mau mengeluarkan uang. "Namun, jika dipakai berulang kali itu justru lebih menghemat sebenarnya," imbuhnya. 

Jika masyarakat tidak mau membeli wadah baru, membawa sendiri barang atau kemasan yang tidak sekali pakai buang juga sudah bisa dianggap sebagai alternatif dari menggunakan kantung plastik. 

"Misal untuk mengambil daging kurban, harusnya bisa bawa wadah sendiri dari rumah, ini alternatif tanpa biaya," katanya. 

Bahkan, masyarakat bisa membawa baskom atau tas dari kain untuk mengambil daging kurban, jelas Dewi. 

Jika memang seseorang yang kreatif, tidak menutup kemungkinan juga bagi masyarakat untuk membuat sendiri tas atau wadah dari barang-barang bekas seperti kaus. 

"Kalau kita sudah punya wadah, ini akan menghemat ongkos pribadi. Zaman dulu aja kita bisa bawa rantang atau wadah, dan tas sendiri dari rumah kalau mau belanja. Kenapa sekarang tidak bisa?," katanya. 

tribun Kaltim

Subscribe to receive free email updates: