Pernah Sebut Presiden Takut Diganti di ILC, Kini JAZ Diciduk Sebar Puluhan Video XX Bareng Pacar

Popnesia.com - Seorang aktivis kampus di perguruan tinggi negeri (PTN) di Yogyakarta, Jibril Abdul Aziz alias JAZ ditangkap pihak kepolisian, pada Senin (19/8/2019).

JAZ mesti berurusaan dengan hukum karena menyebarkan foto dan video XX bersama mantan kekasih ke media sosial.

Tak hanya ke media sosial, JAZ bahkan tega mengirimkan foto dan video asusila itu ke orangtua mantan kekasihnya.

Hal tersebut dilakukan JAZ lantaran kesal hubungannya tak direstui.

Namun siapa sangka, JAZ rupanya pernah menjadi narasumber di acara Indonesia Lawyers Club (ILC) Tv One, pada 16 Oktober 2018.

JAZ waktu itu hadir sebagai Ketua Panitia Seminar Kebangsaan.

Saat itu ia dimintai keterangan atas acara yang ia selenggarakan dengan mengundang mantan Menteri ESDM Sudirman Said.

Namun Sudirman Said tak jadi tampil di acara seminar kebangsaan tersebut.

Selesai memberikan keterangan, JAZ membahas soal kabar dirinya yang diancam akan di-DO pihak kampus.

Ia mengatakan wajar jika mahasiswa takut di-DO.

Dengan lantasng JAZ juga menyebut hal tersebut sama dengan presiden yang takut diganti.

"Mahasiswa takut di DO, DPR takut di PAW, dosen takut dipecat, presiden takut diganti," kata JAZ dikutip TribunJakarta.com dari YouTube TV One, pada Selasa (20/8/2019).

"Itu hal yang lumrah," tambahnya disambut tepuk tangan penonton.

Penelusuran TribunJakarta.com sebelum Pilpres 2019 diselenggarakan, seruan atau gerakan 'Ganti Presiden'ramai mewarnai dunia perpolitikan di Indonesia.




Gerakan tersebut diketahui digaungkan oleh politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera.

10 bulan berselang, siapa sangka JAZ yang dahulu diperbincangkan kini malah terjerat kasus asusila.

Dikutip TribunJakarta.com dari TribunJogja JAZ ditangkap di sekitar Kampus Universitas Gajah Mada ( UGM ).

Korban melaporkan JAZ ke kepolisian pada tanggal 9 Juli kemarin.

Tak berselang lama yakni pada 15 Juli 2019 polisi bisa menangkap JAZ.

"Dalam satu bulan, kami bisa ungkap kasus ini dan sudah P21 ke kejaksaan. Ini kasus ITE tercepat yang bisa ditangani ditkrimsus Polda DIY," jelasnya.

Yulianto mengungkapkan ada puluhan video dan foto XX yang mereka rekam sendiri.

Banyaknya konten itu mengingat hubungan mereka juga sudah terjalin sejak 2017.


"Mereka sendiri yang merekam, mungkin untuk koleksi pribadi. Tapi ternyata digunakan tersangka karena sakit hati," katanya lagi.

Barang yang disita Polisi :

1. 1 unit Ponsel merek Xiaonmi 8 warna biru dan SIM Card

2. 1 box ponsel samsung J 7 Pro dengan SIM Card.

3. 1 Sarung warna ungu motif batik.

4. 1 Bantal leher warna hitam putih.

5. 1 jam tangan warna hitam

6. 1 Matras warna hitam

7. 1 sprei motif bunga kombinasi warna merah muda biru kuning.

8. 1 Dus minyak oles (obat kuat) berisi enam bungkus.

Melansir Tribun Jogja guna mempertanggung jawabkan perbuatannya, pelaku dikenal pidana berlapis.

Pertama adalah Pasal 45 ayat (1) UU 19/2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Pelaku terancam pidana penjara paling lama 6 tahun dan denda paling banyak Rp 1 miliar.

Kedua adalah Pasal 29 UU RI 44/2008 tentang Pornografi, sebab pelaku menyebarkan foto dan video vulgar dirinya bersama korban, termasuk saat berhubungan badan.

"Ancaman pidana penjara paling singkat 6 bulan paling lama 12 tahun, denda paling sedikit Rp 250 juta dan paling banyak Rp 6 miliar," kata Yulianto.

Berkaitan dengan kasus penyebaran foto XX dan video vulgar bersama dengan mantan kekasihnya melalui aplikasi Line dan WhatsApp yang dilakukan mahasiswa berinisial JAZ (26), Kepala Humas dan Protokol UGM, Iva Ariani mengatakan jika UGM masih menunggu proses pemeriksaan pihak kepolisian.

Iva mengatakan jika pihaknya akan menghormati proses yang sedang berjalan dan tidak akan melakukan intervensi terhadap kasus tersebut.

Saat ini semua sudah masuk ke ranah kepolisian, kami menghormati. Kita tidak intervensi. Kita tunggu hasil pemeriksaan," ungkapnya pada Tribunjogja.com.

Artikel ini telah tayang di Tribunjakarta.com

Subscribe to receive free email updates: