Disebut Negara Miskin, ini 7 Perusahaan Malaysia yang Keruk Duit di Indonesia


Popnesia.com - Popnesia.com - Shamsubahrin Ismail, pendiri perusahaan Big Blue Taxi Services, mengatakan Indonesia lebih miskin, karenanya Gojek bisa sukses.

“Gojek berhasil di Indonesia karena angka kemiskinan mereka sangat tinggi, tidak seperti di Malaysia,” ujar Shamsubahrin.

Dari penelusuran melekpolitik, bisnis Malaysia di Indonesia memang luar biasa, mereka memanfaatkan pasar Indonesia yang sangat besar dengan jumlah penduduk 237 juta jiwa merupakan target pasar untuk mengeruk keuntungan dari negeri ini, ketimbang jumlah penduduk Malaysia sendiri yang hanya 27 juta jiwa. Berikut sejumlah grup bisnis Malaysia di Indonesia:

1. Grab
Direktur Utama Grab Anthony Tan menjadi salah satu orang terkaya di Malaysia versi Majalah Forbes. Harta kekayaannya ditaksir mencapai US$ 6 miliar atau setara Rp 82,8 triliun.

Kekayaan tersebut dia dapatkan dari usaha taksi online yang dia geluti sejak beberapa tahun belakangan. Dikutip dari Forbes.com, Tan memulai bisnisnya dengan teman kuliahnya di Harvard Bussiness School, Amerika Serikat. Tan bersama kawannya membuat aplikasi taksi online pertama di malaysia dengan nama MyTeksi.

2. Maybank
PT Bank Maybank Indonesia Tbk mengundulangpendapatan operasional sebelum provisi naik 2,1% menjadi Rp2,0 triliun untuk semester pertama yang berakhir 30 Juni 2019 dibandingkan dengan Rp1,97 triliun pada periode yang sama tahun lalu. 

Pertumbuhan Pendapatan Operasional ini terutama didukung peningkatan fee based income, manajemen pengelolaan biaya yang berkelanjutan dan kenaikan pendapatan bunga bersih sejalan dengan pertumbuhan kredit yang mencapai 6,6% selama enam bulan pertama 2019.

Maybank, nama dagang untuk Malayan Banking Berhad, dengan julukan sebagai “Bank Kepala Harimau”, adalah jaringan bank dan grup jasa keuangan terbesar kedua di Malaysia

3. XL Axiata Tbk

EL Axiata yang dikenal dengan XL adalah salah satu operator seluler terbesar ketiga di Indonesia setelah PT Telkomsel dan PT Indosat. Bahkan, dalam bulan Ramadan ini, XL merupakan salah satu operator yang sangat agresif melakukan ekspansi, termasuk menjaring pelanggan baru. Kepemilikan saham XL saat ini mayoritas dipegang oleh raksasa telekomunikasi Malaysia, yakni Telekom Malaysia (TM) International Berhad melalui Indocel Holding Sdn Bhd (83,8 %) dan Emirates Telecommunications Corporation (Etisalat) melalui Etisalat International Indonesia Ltd (16,0%). Sedangkan, pemegang saham publik hanya 0,2%.

4. CIMB Niaga

CIMB Niaga adalah salah satu bank papan atas dan berada di urutan ke lima bank terbesar di Indonesia. CIMB Niaga yang merupakan penggabungan Bank Lippo dan Bank Niaga dikendalikan oleh perbankan asal Malaysia. Pemegang sahamnya adalah CIMB Group Sdn Bhd sebesar 56,1%, Santubong Ventures Sdn Bhd 16,65%, Greatville Pte Ltd 2,58%. Publik memiliki saham sekitar 24 persen.

5. Air Asia

Air Asia adalah salah satu maskapai penerbangan asal Malaysia. Maskapai yang mengklaim sebagai salah satu penerbangan murah ini melakukan ekspansi bisnis ke Indonesia dengan membuka rute-rute penerbangan ke sejumlah jalur gemuk di Indonesia.

6. Petronas

Perusahaan migas raksasa asal Malaysia yang melakukan ekspansi di Indonesia. Petronas bukan hanya ikut melakukan eksplorasi untuk menyedot minyak dan gas Indonesia, tetapi Petronas juga membuka jaringan yang melayani penjualan bahan bakar minyak melalui pembukaan sejumlah pom bensin.

6. Sime Darby

Sime Darby adalah grup bisnis perkebunan besar asal Malaysia hasil merger dari Kumpulan Guthrie, Golden Hope dan Sime Darby. Sebelum merger, Kumpulan Guthrie telah membeli ratusan ribu hektare perkebunan di Sumatra milik Grup Salim setelah diambilalih oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) sebagai bagian dari penyelesaian utang Grup Salim.

7. Proton

Ini adalah perusahaan otomotif merk Proton yang saat ini gencar memasarkan produknya di negeri ini.

(melek politik)

Subscribe to receive free email updates: