Drama BW Di Sidang MK Disentil Luhut Pangaribuan. BW Panas, Luhut Tertawa

Drama BW Di Sidang MK Disentil Luhut Pangaribuan. BW Panas, Luhut Tertawa
Popnesia.com - Sidang MK kedua dalam kasus sengketa Pilpres 2019 sudah dilaksanakan hari ini, Selasa, 18 Juni 2019 sejak tadi pagi dan baru saja berakhir malam ini.

Jika di Sidang MK pertama saya sempat dikecewakan dengan sikap dan keputusan Hakim MK yang tidak tegas, yang sudah saya tuliskan dalam artikel berikut ini:

Lain cerita dengan sidang kedua MK kali ini. Dalam sidang kedua MK hari ini, para Hakim MK memperlihatkan ketegasannya dengan memutuskan segala sesuatu berdasarkan landasan hukum yang berlaku. Aturan ya aturan. Keren khan. Saya suka… saya suka… saya suka. Begini cerita selengkapnya:

Sidang MK dengan agenda membacakan jawaban termohon (KPU) dan pihak terkait (Kubu 01) atas gugatan pihak pemohon (Kubu 02) secara keseluruhan berjalan dengan baik, sekalipun sempat diwarnai keluarnya Ketua Tim Hukum Kubu 02, Bambang Widjojanto (BW) dari ruang sidang sekitar pukul 10.45 WIB.

Di mata BW, KPU selaku pihak termohon sangat mengecewakan dalam memberikan jawaban terkait gugatan Kubu 02. Begitulah kurang lebih inti ucapan BW pada para wartawan yang menemui BW saat keluar dari ruang sidang ketika kuasa hukum kubu 01, Yusril Ihza Mahendra membacakan jawabannya. Curhat ni yeeee……

Selain itu, sidang MK hari ini juga disertai ketegasan para Hakim MK yang menolak beberapa permintaan BW. Di antaranya adalah menolak permintaan BW yang ingin agar jumlah saksi kubu 02 diberi kelonggaran, serta menolak permintaan BW yang ingin agar MK memberikan perlindungan terhadap saksi kubu 02.

Di bagian permintaan agar MK memberikan perlindungan terhadap saksi kubu 02 inilah terjadi perdebatan panas antara BW dengan Luhut Pangaribuan selaku Kuasa Hukum Kubu 01.

Berikut ini akan saya rangkumkan secara singkat 2 kejadian penolakan tersebut bagi para pembaca Seword sekalian, beserta dengan penjelasannya.

Pertama Menolak permintaan BW yang ingin agar jumlah saksi diberi kelonggaran. BW meminta agar MK memberikan keleluasaan bagi pihak kubu 02 untuk mengajukan para saksi.

Aneh khan ya. Siapapun tentu paham bahwa sikap BW yang semacam ini adalah sikap yang seenaknya sendiri ngerjain orang lain. Kenapa saya katakan ngerjain orang lain???

Mari kita bayangkan jika para saksi yang dihadirkan dalam persidangan tidak diatur secara tegas jumlahnya. Pihak-pihak yang bersengketa akan seenaknya sendiri mengajukan banyak saksi dengan kualitas kurang bagus. Gapapa maju. Yang penting nrocos dulu.

Padahal kita tahu bersama bahwa pemeriksaan saksi terbatas waktunya. Hakim MK juga harus berlaku adil dengan membagi rata waktu dan jumlah yang sama untuk semua pihak yang terlibat dalam sengketa Pilpres 2019 ini.

Hal ini sejalan dengan penuturan Hakim Suhartoyo yang menyatakan lebih mengutamakan kualitas kesaksian daripada kuantitas.

"Kalau tidak membatasi (jumlah saksi), kami juga akan berhadapan situasi tidak bisa memperiksa secara optimal ditambah paradigma mahkamah ke depan maka mahkamah akan memeriksa saksi 1 persatu bukan berondong. Mahkamah ingin menggali kualitas kesaksian dari pada kuantitas saksi" kata Suhartoyo.

Menanggapi permintaan BW ini, MK dengan tegas menetapkan jumlah para pihak di sidang gugatan Pilpres ini adalah 15 saksi dan 2 ahli , serta tak membatasi bukti berbentuk berkas sebagai bukti primer yang sangat penting untuk mendapatkan kesaksian yang berkualitas.

Kali ini saya sangat setuju dengan Hakim Suhartoyo. Siapapun orangnya takkan ada yang suka dikerjain seenaknya sendiri seperti ini. Mendengarkan banyak saksi tapi tak berkualitas.

Jadi, dengan adanya pembatasan jumlah saksi yang dihadirkan di persidangan, jelas pihak-pihak yang berkepentingan dalam sidang akan memilih saksi-saksi dengan kualitas terbaik untuk ditampilkan dalam persidangan.

Dari kejadian ini semoga Hakim Suhartoyo mengingat kembali betapa merugikannya ketidaktegasan yang dilakukan MK pada Sidang MK pertama, di mana saat itu Sidang MK tetap mengijinkan kubu 02 membacakan 15 poin petitum yang merupakan perbaikan berkas permohonan gugatan mereka, sehubungan dengan sengketa Pilpres 2019 yang baru mereka diajukan pada hari Senin, 10 Juni 2019.

Padahal, jika mengacu pada Peraturan MK (PMK) yang berlaku saat ini yaitu PMK nomor 5 tahun 2018 dan PMK Nomor 2 tahun 2019, perbaikan permohonan dikecualikan untuk Pilpres yang mana itu artinya tidak boleh ada perbaikan permohonan atau revisi gugatan dari kubu 02.

Ketidaktegasan MK tersebut jelas akan merugikan pihak KPU maupun Kubu 01 baik dari segi tenaga, waktu maupun biaya yang mengharuskan mereka menjawab, menyanggah dan menyediakan saksi sehubungan gugatan tambahan Kubu 02 yang seharusnya tak perlu ditanggapi karena tak sesuai aturan.

Dan ternyata Hakim Suhartoyo sendiri enggan dikerjain seenaknya sendiri semacam itu khan. Wekekekeke…..

Kedua Menolak permintaan BW yang ingin agar MK memberikan perlindungan terhadap saksi kubu 02.

MK dengan tegas menolak permohonan BW untuk diberikan perlindungan oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) sebab memang tidak ada landasan hukumnya. LPSK bernuansa kasus pidana, sedangkan sengketa di MK terkait dengan sengketa kepentingan.

Padahal MK juga sudah menjamin saksi akan diberikan keamanan selama persidangan.

"Ketika saksi sudah hadir dan disumpah akan dijamin keamanannya dan steril. Kalau setiap warga berhak mendapatkan perlindungan aman, ada yang berwenang," kata Suhartoyo.

Lucu ya BW ini. Kalau memang ada saksi dari kubu 02 yang merasa terancam ya silakan lapor polisi, bukan malah meminta sesuatu ke MK, yang MK tak punya kewenangan di situ. Karena MK bukanlah kekuasaan negara untuk melindungi saksi.

Adapun keberadaan kerjasama antara MK dan LPSK adalah: MK meminta perlindungan kepada LPSK karena ada kemungkinan potensi ancaman yang ditujukan pada para Hakim MK dan para pegawai MK yang sedang menangani kasus.

Hakim I Gede Dewa Palguna juga menegaskan bahwa para saksi aman datang ke sidang MK.

"Selama berada di MK tidak boleh satu orang pun yang merasa terancam. Oleh karena itu, saya ingin menyampaikan jangan dibuat seolah-olah begitu menyeramkan sehingga orang merasa terancam memberikan keterangan di mahkamah," kata Hakim Palguna.

Sampai di bagian ini saya memang ngakak. Tanpa bermaksud menuduh, terlihat bahwa BW ingin menciptakan kesan di masyarakat bahwa para saksi dari kubu 02 sedang terancam keselamatan jiwanya.

Framing khas kubu 02. Ntar pas dimintain bukti-buktinya juga pasti ngalor ngidul jawabannya. Lagu lama. Cebong udah hapal yang beginian. Wakakakaka……

Hal inilah yang menimbulkan perdebatan panas antara BW dengan Luhut Pangaribuan.

"Jangan membuat drama," kata Luhut.

"Saya keberatan," kata BW memotong ucapan Luhut.

Luhut yang lebih senior di YLBHI tidak terima dan kembali memotong omongan BW sambil mengatakan bahwa BW tidak hormat pada senior. Sebab, saat berbicara, Luhut tidak memotong omongan BW, sedangkan BW malah memotong omongan Luhut.

"Kalau betul ada (ancaman), tolong sampaikan di persidangan ini untuk membantu. Syukur-syukur kalau ini bukan drama. Kalau sungguh-sungguh, mari kita dengarkan, kewajiban kita, langsung atau tidak langsung, " kata Luhut.

BW langsung menanggapi Luhut dengan menaikkan nada bicaranya.

"Ini bukan drama. Ini sungguh-sungguh. Jangan mempermainkan nyawa orang!" kata BW.

Wakakakaka….. Ngakak jadinya. Sengakak Luhut Pangaribuan yang tertawa melihat kelakuan BW yang panas semacam itu.

BW bukan orang yang tak mengerti hukum. BW justru sangat mengerti hukum. Di sinilah BW sedang mempertontonkan kelicikannya yang ingin mengambil celah dari kerjasama antara MK dan LPSK tadi.

Dari sini saya bisa mengambil kesimpulan bahwa BW memang keenakan dengan ketidaktegasan yang diperlihatkan para Hakim MK di sidang pertama. Hasilnya, permintaan BW makin menjadi di sidang kedua. Ngelunjak. Begitulah kampret-kampret. Kalau Seword kan “Begitulah kura-kura”. Xixixixixi….

Hari ini saya bersyukur dengan ketegasan MK dalam menerapkan aturan ya aturan. Titik. Saat MK tegas pada aturan yang berlaku, semua pihak akan diam dan menerimanya. Pertahankan dan lanjutkan. Bravo MK. God bless MK.

Sumber referensi:

http://www.tribunnews.com/nasional/2019/06/18/sidang-sengketa-pilpres-bw-sempat-keluar-ruangan-nyatakan-kekecewaan-atas-jawaban-kpu

https://news.detik.com/berita/d-4590911/hakim-mk-ogah-turuti-permintaan-bw-yang-minta-saksi-tak-dibatasi

https://news.detik.com/berita/d-4590912/hakim-mk-tegaskan-tidak-ada-landasan-hukum-saksi-mk-dilindungi-lpsk

https://news.detik.com/berita/d-4590916/hakim-mk-ke-bw-jangan-buat-seolah-sidang-mk-menyeramkan

https://news.detik.com/berita/d-4590928/debat-panas-luhut-bw-senioritas-drama-dan-permainkan-nyawa-orang

Silakan klik link berikut untuk bisa mendapatkan artikel-artikel saya yang lainnya.

https://seword.com/author/jemi/

Thank you so much guys. Peace on earth as in Heaven. Amen.

Subscribe to receive free email updates: