Reaksi Rico Marbun saat Lembaga Surveinya Disebut Boni Hargens Memihak Prabowo

Popnesia.com - Direktur Lembaga Survei Median, Rico Marbun membantah pernyataan Direktur Lembaga Pemilih Indonesia, Boni Hargens yang menyebut lembaga surveinya memihak pada calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto.

Dikutip dari acara Kabar Petang, Tv One, Selasa (22/1/2019), awalnya Boni Hargens mengomentari hasil survei terbaru Median pascadebat perdana melalui telewicara.

Boni Hargens mengatakan bahwa Median tidak masuk akal dalam menyajikan hasil survei pemilihan presiden (pilpres).

"Median saya ingat di 2014 cukup kontroversial pernah mengangkat hasil survei, di mana dalam 10 hari elektabilitas kandidat itu terkoreksi 9 persen, buat saya ini enggak masuk akal baik metodologi maupun dari sisi akal sehat," ujar Boni Hargens sambil tertawa kecil.

Boni Hargens juga menyebut bahwa Median secara tidak langsung telah menunjukkan dukungannya pada pasangan calon Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

"Saya ini analis politik, cara me-report hasil survei ini terlihat Median sedang melakukan leading opinion jadi menggiring opini," tambah Boni Hargens.

"Survei biasanya dimulai dengan metodologi dan pemaparan variabel-variabel bagaimana tingkat kesukaan atau dukungan terhadap kandidat berdasarkan gender, tingkat pendidikan, ekonomi dan sebagainya. Tapi di laporan Median dia langsung pada kesimpulan bahwa Pak Jokowi di 40 sekian baru Pak Prabowo di 38 sekian."

"Lalu menariknya bahwa Median ini satu-satunya lembaga yang melihat keterpautan di 9,2 persen sementara hampir semua lembaga lain yang kredibel mengatakan keterpautannya di 19 sampai 20 persen, jadi ini agak' ajaib'. Fakta ini 'ajaib' atau Median yang 'ajaib' ini menjadi tanda tanya besar."

"Proses leading yang dilakukan Median ini menurut saya agak vulgar. Kalau Median di-hire sebagai konsultan mungkin ini agak sedikit kurang elegan, mungkin sedikit disembunyikanlah keberpihakannya pada Prabowo."

"Lalu kemudian tren peningkatan elektabilitas Prabowo ini cukup ajaib, 3 persen. Mari kita hitung, ini survei di Januari, pilpres tanggal 17 April masih ada Februari, Maret, April. Artinya dia mau mengatakan, 'kami sedang menggiring anda dengan peningkatan 3 persen di April nanti Pak Prabowo akan seimbang atau menang tipis dengan Jokowi'. Jadi ini kelihatan rekayasanya keterlaluan. Makanya saya bilang, Bung Rico kalau mau jadi konsultan 02 mungkin lebih sedikit elegan lah, dari sisi metodologi dijaga betul," kata Boni Hargens.

"Ini komentar dari konsultan 01 ini," jawab Rico Marbun sembari tertawa saat mendengar pemaparan Boni Hargens.

"Terserah, ini kan politik ada wilayah terlihat dan tak terlihat," jawab Boni Hargens sambil tertawa kecil.

"Kredibilitas Median dipertanyakan, seperti apa teorinya?" tanya pembawa acara kepada Rico Marbun.

"Bang Boni ini kan peneliti, kalau dia peneliti harusnya dia bisa tanya pada saya data-data itu," jawab Rico Marbun.

"Kalau terkait data-data 2014 lalu, kami punya data bahwa memang posisi Pak Prabowo pada saat itu, data itu diambil setelah debat ke-3 dan memang Pak Prabowo saat itu kalah. Cuma beliau (Boni Hargens) ini enggak pernah tanya sama saya. Hanya menyerap berita hoaks yang ada dari media sosial."

"Yang kedua, Pak Boni ini berarti enggak baca rilis saya kalau dia baca rilis saya, di situ lengkap. ada elektabilitas per usia, per pendidikan, kemudian ada kelebihan dan kelemahan masing-masing calon. Itu kami sampaikan," jelas Rico Marbun.

Rico Marbun lantas membantah anggapan Boni Hargens bahwa Median menggiring opini publik terkait tren kenaikan elektabilitas Prabowo yang bisa seimbang dengan Jokowi dalam waktu tiga bulan.

"Soal leading ingin menggerek suaranya menjadi sama dalam tiga bulan itu bagaimana?" tanya pembawa acara.

"Enggak bisa. Lembaga survei tidak bisa melakukan itu. Yang harus bekerja itu pasangan calon bukan saya. Makanya saya kritik begini, Pak Prabowo itu menjanjikan bahwa ia akan berkampanye seribu titik. Saya katakan 1000 titik itu tidak bisa menaikan suaranya," jawab Rico Marbun.

"Anda jangan tuduh saya timses siapa-siapa. Saya bukan timses 01, bukan timses 02. Anda baca dulu," tandasnya.

Lihat video selengkapnya berikut ini:



Sebelumnya diberitakan oleh Kompas.com, hasil rilis survei Median telah diumumkan pada Senin (21/1/2019) lalu.

Pasangan Jokowi-Maruf dan Prabowo-Sandi memiliki selisih yang menipis.

Survei yang dilakukan pasca debat perdana tersebut menunjukkan elektabilitas Jokowi-Ma'ruf kini sebesar 47,9 persen dan Prabowo-Sandiaga 38,7 persen.

Sehingga, perbedaan elektabilitas keduanya menjadi 9,2 persen.

"Selisih elektabilitas atau jarak elektoral relatif menipis. Suara pasangan Jokowi-Ma'ruf relatif stagnan, sedangan Prabowo-Sandiaga tumbuh namun relatif lambat," kata Rico Marbun di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Senin (21/1/2019).

Sebelumnya, pada hasil jajak pendapat Median per November 2018, tingkat keterpilihan Jokowi-Ma'ruf yakni 47,7 persen sedangkan Prabowo-Sandiaga 35,5 persen.

Selisih elektabilitas keduanya kala itu masih 12,2 persen.

Rico menambahkan, untuk kesimpulan pertama memasuki Januari 2019, selisih kedua kandidat menjadi satu digit.

"Faktornya adalah kepuasan publik terhadap pemerintahan Jokowi ada di level medium atau sedang, yaitu sebesar 51,9 persen. Hasil itu tidak rendah, namun juga enggak tinggi," ungkapnya.

(TribunWow.com/Tiffany Marantika)



Subscribe to receive free email updates: