Ini Dia Isi Tabloid Indonesia Barokah yang Bikin Kubu Prabowo Tersinggung


Penyebaran tabloid Indonesia Barokah di pertengahan Januari 2019 rupanya membuat pendukung pasangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno tersinggung, bahkan mengancam melapor ke Badan Pengawas Pemilu dan aparat penegak hukum. Kemarin, mereka sudah memulai langkah dengan melapor ke Dewan Pers.

Seperti apa sesungguhnya isi tabloid yang kini dikirim ke sebagian masjid di Solo, Yogyakarta, Purwokerto, dan Karawang itu?

AKURAT.CO mendapatkan tabloid versi online. Tabloid Indonesia Barokah dengan tagline Membumikan Islam Rahmatan Lil 'Alamin edisi perdananya tertulis terbit Desember 2018.

Laporan utama mereka menurunkan tulisan berjudul Reuni 212: Kepentingan Umat atau Kepentingan Politik? Cover tabloid berupa karikatur dalang memainkan wayang yang diplesetkan menjadi karakter Batman dan Bruce Lee.

Laporan yang sumber datanya mengambil dari berbagai media online itu mengulas tentang aksi 2 Desember 2016 yang kemudian menjadi aksi yang selalu diperingati 2 Desember setiap tahun. Laporan tersebut menjawab pertanyaan tentang kenapa harus ada reuni 212 dan apa tujuan serta motifnya. Nama calon presiden nomor urut dua Prabowo Subianto beserta tim pendukung disebut-sebut dalam laporan karena mereka hadir dalam reuni tahun 2018.

Laporan memuat pernyataan sejumlah pihak, di antaranya Majelis Ulama Indonesia Jawa Barat yang menilai kegiatan reuni tersebut sudah kehilangan esensi dan melenceng ke arah politik. Selain MUI, pendapat mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD yang disampaikan lewat Twitter juga diangkat. Disebutkan dalam tulisan, Mahfud MD mengatakan ukuran keimanan tidak bisa ditentukan dari hadir atau tidaknya di acara reuni 212.

Namun, dalam laporan tentang reuni 212 yang isinya merangkai informasi dari berbagai media itu tidak mengangkat pendapat dari panitia acara sebagai cover both side.

Yang dibuat Indonesia Berkah justru kontroversi pernyataan Prabowo Subianto dengan judul besar berwarna merah: Prabowo Marah Media Dibelah. Pernyataan Prabowo Subianto diambil Indonesia Barokah dari pemberitaan sejumlah media online. "Mereka (media) mau katakan yang 11 juta hanya 15 ribu. Bahkan ada yang bilang kalau lebih dari 1.000," kata Prabowo Subianto yang dikutip Indonesia Barokah dari tirto.id.

Dalam tulisan tersebut juga mengangkat pernyataan dosen Ilmu Politik dan Pemernitahan dari Universitas Gadjah Mada Arya Budi yang menilai Prabowo Subianto sedang memainkan teori bandwagon effect.

Dalam liputan khusus Indonesia Barokah mengangkat tulisan dengan judul pertanyaan: Membohongi Publik untuk Kemenangan Politik? Ini merupakan salah satu laporan yang dianggap kubu Prabowo Subianto berisi serangan.

Tulisan ini mengulas peristiwa yang menimpa pendukung Prabowo Subianto, Neno Warisman. Tulisan dimulai dari kasus mobil Neno Warisman terbakar dan kemudian mendapatkan tanggapan dari politikus Partai Gerindra Fadli Zon. Fadli Zon menyemangati Neno Warisman. Belakangan, kasus itu dijawab oleh Polda Metro Jaya melalui Komisaris Besar Argo Yuwono yang dikutip Indonesia Barokah dari Detik.com bahwa kebakaran mobil Neno Warisman akibat konsleting listrik, bukan dibakar.

Kasus pendukung Prabowo Subianto, Ratna Sarumpaet, yang mengaku dipukuli orang dan ternyata lebam-lebam pada wajahnya akibat efek operasi plastik juga disebut dalam tulisan. Dengan mengutip pernyataan tim kampanye Jokowi, Budiman Sudjatmiko, hoaks Ratna Sarumpaet dinilai sengaja ditimbulkan untuk membuat kegaduhan.

Indonesia Barokah juga menambahkan informasi dengan mengutip pernyataan Direktur Eksekutif Gajah Mada Analitika Herman Dirgantara tentang kasus itu. "Teknik propaganda firehouse of falsehood itu sebetulnya merupakan teknik strategi perang non konvensional atau kotor. Sehingga tepat jika kasus drama ratna Sarumpaet tidak berhenti pada satu orang asja. Perlu ditelusuri," kata herman.

Tulisan juga menyinggung pidato Prabowo Subianto yang dianggap menyudutkan pemerintah, yakni menyebut Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030. Tulisan tersebut memberikan penilaian bahwa pidato Prabowo Subianto menebar ketakutan kepada publik.

Laporan khusus itu diakhiri dengan tulisan yang diberi sub judul Strategi Kotor yang Terbukti Ampuh.

Dalam rubrik Edukasi, antara lain mengangkat tema Hoax Ganggu Stabilitas dan Keamanan Bangsa. Tulisan ini, di antaranya membahas media sosial yang seharusnya dimanfaatkan untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan menyebarkan konten positif. Tetapi faktanya, dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi yang mengandung konten negatif, apalagi menjelang pemilu.

Dalam rubrik Tabayun, Indonesia Barokah menangkat tema Obor Rakyat, Asal Usul Fitnah Jokowi PKI dan Antek Asing. Obor Rakyat merupakan tabloid yang terbit pertamakali jelang pemilu presiden 2014. Waktu itu, tabloid disebarkan ke berbagai pesantren dan masjid di Jawa. Waktu itu, judul terbitan mereka adalah Capres Boneka dan memuat karikatur Jokowi sedang cium tangan Megawati Soekarnoputri.

Tulisan ini menggambarkan bagaimana Jokowi pada waktu itu dijelek-jelekkan. Belakangan, pengelola tabloid itu dilaporkan ke polisi dan kemudian diproses secara hukum.

Dalam rubrik ekonomi, Indonesia Barokah mengangkat tema Bank Wakaf Mikro Atasi Kesenjangan dan Kemiskinan. Tulisan ini berisi sisi positif era Jokowi disektor ekonomi. Misalnya, pemerintah sudah mendirikan Bank Wakaf Mikro di 33 pondok pesantren. Disebutkan, setiap Bank Wakaf Mikro mendapat modal sekitar Rp8 miliar.

Tulisan ekonomi yang kedua berjudul 4 Tahun Jokowi-JK: Era Baru Ekonomi Indonesia? Laporan tersebut menurunkan laporan tentang apa saja yang sudah dilakukan pemerintahan Jokowi dan Jusuf Kalla dalam empat tahun. Bahan tulisannya diambil dari Kompas.

Sementara di rubrik Fikih berisi tentang tanja jawab fikih Islam dengan judul Hukum Meninggalkan Shalat.

Prabowo Subianto kembali disebut dalam laporan pada rubrik ini dengan judul besar warna merah: Prabowo Ditantang Imami Shalat. Pernyataan La Nyalla diangkat. "Ayo kita uji keislamannya Pak Prabowo. Suruh Pak Prabowo baca Al Fatihah, Al Ikhlas, bacaan-bacaan shalat," kata dia. Seperti dalam laporan pada rubrik-rubrik lainnya, dalam rubrik ini, Indonesia Barokah juga tidak memuat penjelasan dari tim pendukung Prabowo Subianto.

Dalam kotak redaksi, Indonesia Barokah tertulis dipimpin oleh Ichwanuddin dengan redaktur pelaksana Khusnaedi. Alamat redaksi mereka tertulis di Jalan Haji Kerenkemi, Rawa bacang, Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Bekasi.

Lapor Dewan Pers

Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengadukan tabloid Indonesia Barokah yang diduga melanggar kode etik jurnalistik ke Dewan Pers.

"Ada dua konten, salah satunya di halaman 6 menyerang capres nomor nurut 02 dengan judul membohongi publik untuk kemenangan politik?" ujar anggota Direktorat Advokasi dan Hukum BPN Nurhayati di gedung Dewan Pers, Jakarta, Jumat (25/1/2019).

Menurut dia artikel dalam tabloid yang beredar di masjid di daerah di Jawa Tangah dan Jawa Barat tersebut dapat memecah belah umat Islam yang mendukung Prabowo Subianto dan umat Islam pada umumnya.

Selain diduga melanggar kode etik jurnalistik, tabloid Indonesia Barokah juga disebut tidak memiliki badan hukum serta tanpa susunan redaksi yang jelas sehingga pertanggungjawabannya dipertanyakan.

Nurhayati mengaku BPN tidak mengecek langsung ke alamat tertera yang disebut palsu dan menyerahkan kepada Dewan Pers untuk melakukan tindak lanjut.

"Kami langsung melaporkan saja karena biasanya kalau tabloid resmi ada di Dewan Pers, nama percetakan disebutkan, kalau alamat bisa rumah atau apa, kalau percetakan jelas," kata Nurhayati.

Terkait rencana melaporkan kepada polisi, ia mengatakan BPN akan melihat tindak lanjut dari Dewan Pers, apabila memenuhi unsur pidana baru pihaknya akan melapor.

Imbau dibakar saja

Ketua Dewan Masjid Indonesia Jusuf Kalla memerintahkan kepada seluruh pengurus masjid yang telah menerima tabloid Indonesia Barokah untuk segera membakarnya.

"Ya, karena itu melanggar aturan, apalagi mengirim ke masjid, saya harap jangan dikirim ke masjid. Semua masjid-masjid (yang menerima, red) itu dibakarlah, siapa yang terima itu," kata Jusuf Kalla yang juga Wakil Presiden di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta, Sabtu (26/1/2019).

Jusuf Kalla juga telah memerintahkan kepada jajaran pengurus DMI di daerah untuk mengimbau kepada masjid-masjid supaya tidak mendistribusikan tabloid Indonesia Barokah kepada masyarakat.

Jusuf Kalla meminta supaya masjid dan rumah-rumah ibadah lain tidak dijadikan tempat untuk membuat dan menyebarkan kabar bohong, sehingga dapat memecah belah persatuan umat.

"Jangan masjid jadi tempat bikin hoaks-hoaks, macam-macam itu; jangan diadu. Kita sudah perintahkan DMI untuk kasih tahu bahwa jangan masjid menerima itu, karena berbahaya," ujarnya.

"Jangan seperti Obor Rakyat zaman dulu (pilpres 2014). Itu kan masuk penjara, dihukum kan," dia menambahkan.

Tanggapan kubu Jokowi

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Abdul Kadir Karding, menegaskan timnya tidak mengendalikan Indonesia Barokah.

"Itu di luar kontrol, di luar kendali kita. Oleh karena itu, kami merasa tidak diuntungkan, juga tidak dirugikan," kata Karding ditemui usai peresmian Official Merchandise Paslon #01 di FX Mall, Jakarta, kemarin.

Menurut Karding TKN juga tidak mengerti pihak yang menerbitkan tabloid tersebut. Kendati demikian, menurut dia, isi yang dimuat di dalam tabloid itu berupa fakta.

Ia menjelaskan muatan dalam tabloid itu berisi kampanye negatif. "Sebenarnya, pada era demokrasi itu, negative campaign boleh asalkan ada datanya dan faktanya. Yang tidak boleh adalah black campaign," ujar Karding.

Karding mengimbau kubu pendukung Prabowo Subianto mengikuti hukum dan peraturan yang berlaku dalam menanggapi peredaran Indonesoa Barokah.Akurat.co

Subscribe to receive free email updates: