Debat Sengit Kivlan Zen dengan Adian Napitupulu, Najwa Shihab Pilih Nikmati Minuman di Depannya


Popnesia.com - Perdebatan sengit terjadi antara punawirawan Kivlan Zen dan politisi PDIP Adian Napitupulu.

Hal itu terjadi saat keduanya menjadi narasumber di acara Mata Najwa dengan tema 'PKI dan Hantu Politik', Rabu (16/1/2019).

Dilansir melalui tayangan live Mata Najwa yang diambil dari vidio.com, keduanya sengit berdebat dan saling berhadapan.

Debat keduanya terjadi saat Adian Napitupulu menjawab soal PDIP yang dikaitkan dengan PKI.

Lalu, Kivlan menyanggahi dengan argumennya.

Keduanya lalu saling tak mau kalah.

Hingga pembawa acara Mata Najwa, Najwa Shihab terpaksa mengambil jeda.

"Oke, kita akan break," ujar Najwa Shihab.

Perkataan dari Najwa Shihab pun nyaris tak terdengar karena dibarengi dengan suara perdebatan.

"Kita akan kembali setelah pariwara tetap di Mata Najwa PKI dan Hantu Politik sesaat lagi," kata Najwa.

Setelah Najwa menutup segmen tersebut, Adian dan Kivlan masih tetap melanjutkan perdebatan.

Sementara Najwa terlihat acuh dan memilih meminum sajian yang ada di depannya.


Diketahui, selain Adian dan Kivlan Zen, ada 4 narasumber lainnya yang hadir.

Yakni pemred Obor Rakyat Setiyardi Budino, politikus PKS Mardani Ali Sera, Kapuspen TNI Brigjen TNI Sisriadi, serta sejarawan Bonnie Triyana.

Dilansir melalui Instagram matanajwa, tim Mata Najwa mengangkat tema tersebut karena masih maraknya kampanye hitam yang sering membuat gaduh.

"Kebangkitan PKI, isu yang kerap direproduksi jelang Pemilu. Isu "hantu" PKI ini kembali mengisi perdebatan demi perdebatan elit politik.

Kampanye hitam dikatakan masih terbukti ampuh untuk memengaruhi perilaku pemilih. Komitmen anti kampanye hitam oleh elit politik kubu Jokowi & Prabowo seakan sia-sia karena faktanya kampanye hitam masih ada melalui beragam cara.

Kampanye hitam kerap membuat gaduh dan memanaskan suhu politik. Apa yang harus dilakukan untuk menghindari konflik?," tulis matanajwa, Rabu (16/1/2019).

Adian Napitupulu Apresiasi Brigjen TNI Sisriadi

Dalam acara tersebut, politisi PDI Perjuangan Adian Napitupulu juga tampak mengapresiasi pernyataan Kapuspen TNI, Brigjen TNI Sisriadi yang mengakui kesalahan anggota TNI terkait razia buku PKI.

Hal tersebut disampaikan Adian Napitupulu saat menjadi pembicara tamu di acara Mata Najwa yang Tayang Live di Trans7, Rabu (16/1/2019).

"Apa yang disampaikan pak Kapuspen tadi, saya setuju."

"Bahwa kalau disebut keteledoran, mungkin keteledoran. Kalau disebut kesalahan, mungkin kesalahan," kata Adian.

"Ini sebuah pernyataan yang menurut saya luar biasa."

"Ini memberikan kita, sebagai bangsa, sebuah harapan bahwa reformasi terus berjalan. Di Kubu TNI tentunya," imbuh Adian.

Menurut Adian, berdasarkan persepsi hukum, bagaimanapun juga Indonesia adalah negara hukum.

Untuk itu, ujarnya, tidak benar jika ada orang yang melakukan segala sesuatunya dengan semena-mena.

Adia mengaku, baru kali ini ia mendengar seorang petinggi TNI mengakui kesalahannya.

Hal itu yang membuatnya mengapresiasi Brigjen TNI Sisriadi.

"Saya baru dengar sekarang (TNI mengaku salah)."

"Di sebuah forum terbuka seperti ini, saya duduk didepan, ini pernyataan yang luar biasa," katanya.

Sebelumnya, Kapuspen TNI Brigjen TNI Sisriadi memaparkan, polemik razia buku ini bermula dari cara pikir prajuritnya yang memahami permasalahan penyebaran komunisme.

"Ini bermula dari cara berpikir para prajurit yang secara edukatif mereka memahami masalah-masalah yang berkaitan dengan penyebaran komunisme."

"Itu cara berpikir mereka, jadi ketika mereka betindak itu berdasarkan latar belakang cara pikir mereka," jelas Brigjen TNI Sisriadi.

Dijelaskannya, ada Undang-Undang ( UU) yang melarang penyebaran komunisme.

"Maka institusi TNI mulai dari mabes TNI darat, laut, dan udara, merasa tidak perlu membuat aturan khusus."

"Karena sudah jelas dalam UU Nomor 27 Tahun 1999 tentang larangan penyebaran ajaran komunisme dan marxisme," terangnya.

Brigjen TNI Sisriadi memaparkan, pernyataannya itu secara tidak langsung telah menjawab bahwa tidak ada perintah atau kebijakan khusus yang berkaitan dengan kejadian razia buku.

"Saya kira kita bisa melihat keadaan sosial beberapa hari belakang karena kita memasuki tahun politik ini."

"Jadi para prajurit berdasarkan pengetahuan mereka terkait pelarangan ajaran komunisme, ketika mereka menerima laporan masyarakat, mereka sedang berada dalam posisi sebagai warga negara," terangnya lagi.

Brigjen TNI Sisriadi mengatakan, yang menjadi dasar pikir para prajuritnya itu adalah pelarangan ajaran komunisme.

"Mereka tidak melihat aturan-aturan lain terkait razia buku," paparnya.

"Ini yang harus kita perbaiki kedepan. bahwa para prajurit harus memiliki informasi yang baik," imbuh Brigjen TNI Sisriadi.

Brigjen TNI Sisriadi lantas mengakui bahwa polemik razia buku itu adalah sebuah kesalahan dan keteledoran.

"Ini kesalahan dan keteledoran. Tapi saya yakin kedepan kita akan memperbaiki sistem itu sehingga mereka bisa lebih paham tentang hukum," pungkasnya.

Diketahui, razia buku ini terjadi di sejumlah daerah di Indonesia.

Satu di antaranya adalah di Kediri, Jawa Timur.

Mengutip TribunJatim, aparat keamanan mengamankan ratusan judul buku beraliran kiri dari dua toko buku di Jalan Brawijaya, Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, pada Kamis (27/12/2018).

Buku-buku tersebut diamankan di Kantor Kesbanglinmas, Mapolres Kediri dan Makodim Kediri.

Komandan Kodim 0809 Kediri Letkol Dwi Agung Sutrisno menjelaskan, buku-buku aliran kiri ini diduga mengandung ajaran dan paham komunisme.

"Untuk meneliti judul buku tersebut kita akan menggandeng kejaksaan dan dinas terkait," ujarnya.

Letkol Dwi Agung Sutrisno menjelaskan, pengamanan ratusan judul buku itu bukan berarti ada sweping atau penggrebekan.

Namun, akan dilakukan pengkajian terkait isi buku.

"Supaya tidak menimbulkan keresahan di masyarakat buku kita amankan. Kemudian kita lakukan pengkajian dengan unsur terkait," paparnya.

Letkol Dwi Agung Sutrisno juga mengungkapkan bahwa terkait penyelesaian ratusan buku yang diduga beraliran kiri itu, akan diselesaikan secara hukum.

Jika setelah dikaji ternyata tidak mengandung ajaran dan paham komunisme bukunya akan dikembalikan.

Buku-buku yang diamankan, jelasnya, adalah buku yang ada tulisan terkait komunisme dan PKI.

Sejauh ini buku-buku beraliran kiri hanya ditemukan pada dua toko buku yang ada di Pare yaitu toko buku Agung dan Abdi.

Beberapa judul buku yang diamankan di antaranya, Menempuh Jalan Rakyat, Manifesto Partai Komunis, Benturan NU - PKI 1948 – 1965, Negara dan Revolusi, Orang – orang di Persimpangan Kiri Jalan, dan Nasionalisme Islamisme Marxisme.

Ada juga buku Oposisi Rakyat, Gerakan 30 September 1965, Catatan Perjuangan 1946-1948, Kontradiksi Mao Tse Tung, Negara Madiun, Menempuh Jalan Rakyat, Islam Sontoloyo, Sukarno Orang Miri Revolusi & G 30 S 1965, Maestro Partai Komunis, Komunisme Ala Aidit, Di Bawah Lentera Merah, serta Gerwani dan Lenin.

(TribunWow.com/Tiffany Marantika/Ananda Putri Octaviani)

Subscribe to receive free email updates: