Anaknya Pernah Ikut Laporkan Sandiaga Uno ke Polisi, Istri Konglomerat Nilai Sosok Sandi Seperti Ini

Popnesia.com - CALON Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno, pernah dirundung masalah.

Ia pernah digugat oleh mantan mitra bisnisnya, Edward Soeryadjaya, putera sulung konglomerat pendiri Grup Astra, William Soeryadjaya.

Nama keluarga konglomerat Soeryadjaya memang tidak bisa lepas dari Sandiaga.

Bagaimana tidak? Kesuksesan bisnis Sandiaga tak lepas dari keluarga tersebut.

Sandiaga adalah salah satu 'murid' berbisnis William Soeryadjaya, yang akrab disapa Oom Willem.

Bahkan Sandiaga Uno mengakui hal tersebut, dan pernah ditulis oleh kompas.com.

Dalam sebuah tulisan di kompas.com sebelum Sandi jadi Gubernur DKI, Sandiga Unopernah menceritakan hubungannya dengan pendiri PT Astra Internasional, William Soeryadjaya, yang sudah terjalin sejak lama.

Cerita itu disampaikan ketika Sandi mengungkapkan kegiatannya  yang hendak menemui Edwin Soeryadjaya, salah satu anak William.

"Sore ini ada undangan dari Pak Edwin yang memastikan ada legacy (warisan) dari Pak William Soeryadjaya dan saya diundang sebagai narasumber dalam sebuah diskusi," kata Sandi saat ditemui di kawasan Glodok, Jakarta Barat, Selasa (28/3/2017).

Warisan atau peninggalan yang dimaksud berupa pembelajaran dari William terhadap Sandi semasa masih merintis usaha dulu.

Sandi mengenang, selama tujuh tahun, dari sekitar tahun 1997-1998 hingga 2005, dirinya hampir setiap pekan bertemu William untuk belajar dan makan siang bersama.

"Mungkin catatan-catatan yang pernah saya buat, dalam sesi bagaimana membangun usaha, nilai-nilai luhur dia, menjaga kebersamaan, bahwa membangun perusahaan adalah aset bangsa, bukan memperkaya diri sendiri," tutur Sandi.

Ya, dikutip dari berbagai sumber, bisnis Sandiaga Uno memang dimulai pada 1997.

Saat itu, ia bersama Rosan Perkasa Roeslani mendirikan perusahaan penasihat keuangan bernama PT Recapital Advisors. Rosan kini menjadi Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin).

Setelah mengenal Oom Willem, kedekatan Sandiaga dengan keluarga Soeryadjaya berlanjut.

Pada 1998, Sandiaga dan Edwin Soeryadjaya, putra kedua Oom Willem, mendirikan perusahaan investasi bernama PT Saratoga Investama Sedaya Tbk.

Perusahaan itu berkecimpung di bisnis pertambangan, telekomunikasi, dan produk kehutanan.

Sebagai perusahaan investasi, kinerja Saratoga terbilang moncer. Perusahaan mampu menyedot modal investor untuk mencaplok perusahaan-perusahaan lain, kemudian melegonya setelah dibenahi.

PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) menjadi salah satu perusahaan yang mampu dibenahi Saratoga.

Sejak Saratoga didirikan, Sandiaga Uno menjadi pucuk pimpinan yang langsung mengarahkan bisnis perusahaan. Tak hanya itu, ia juga mengaku memiliki 16 jabatan di seluruh perusahaan dan anak usahanya.

Namun, setelah memilih berfokus di dunia politik bersama Partai Gerindra, Sandiaga pun rela melepas semua jabatan di bisnisnya. Saat ini, tahta bos Saratoga ia serahkan kepada cucu William Soeryadjaya, Michael Soeryadjaya.

Kini, Saratoga mengempit saham beberapa perusahaan besar. Di sektor energi dan pertambangan, terdapat PT Adaro Energy Tbk (ADRO), sektor Infrastruktur menara telekomunikasi ada PT Tower Bersama Infrastruktur Tbk (TBIG), dan di lini konsumer otomotif terdapat PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX).

Oleh karena itu masalah yang terjadi di antara Sandiaga dan Edward bukanlah hal baru.

Sebelumnya, Edward melaporkan Sandiaga dangan tuduhan pemalsuan sertifikat lahan Depo Pertamina di Balaraja, Tangerang.

Melalui PT Siwani Makmur Tbk, Edward melaporkan PT Pandan Wangi Sekartaji yang sempat dipimpin oleh Sandiaga, ke Polda Metro Jaya atas dugaan pemalsuan dan penggelapan dokumen.

Pemalsuan diduga dilakukan oleh rekanan PT Pandan Wangi Sekartaji, yakni PT Jakarta Depo Satelit, pada dokumen kepemilikan sertifikat lahan pembangunan Depo Balaraja.

Laporan itu didasarkan pada putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung tanggal 15 Desember 2009 yang menyatakan sertifikat yang dimiliki Jakarta Depo Satelit sebagai sertifikat palsu.

Namun PT Jakarta Depo Satelit mengajukan banding dan dimenangkan oleh PTUN Jakarta. Pasalnya, dalam proses persidangan, PT Siwani Makmur Tbk tak pernah menghadirkan sertifikat yang asli, tetapi hanya salinan dokumen yang telah dilegalisir oleh Pengadilan Singapura.

Perselisihan terus bergulir hingga Edward mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA), yang kemudian ditolak. Putusan MA pada 21 Desember 2010 menolak permohonan kasasi Edward atas klaim lahan seluas 199.910 m2 yang dipersengketakan.

Putusan MA itu terdaftar dengan nomor 313 K/TUN/2010 dengan Majelis Hakim Supandi, Achmad Sukardja, dan Paulus E Lotulung. Majelis memutuskan sertifikat lahan Depo Pertamina itu sah milik PT Jakarta Depo Satelit, rekanan PT Pandan Wangi Sekartaji saat Sandiaga menjadi direkturnya.

Berikutnya ketika Sandiaga Uno mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur DKI, Edward kembali muncul dengan serangan tuntutan baru kepada Sandiaga Uno.

Edward melaporkan Sandiaga Uno dengan tuduhan penggelapan tanah yang berujung kerugian pihak lain.

Perkara yang dituduhkan kepada Sandiaga Uno adalah penggelapan pada jual-beli lahan di Jalan Raya Curug, Tangerang Selatan.

Dalam laporannya kepada polisi bernomor LP/1151/III/2017/PMJ/Dit Reskrimum, Djoni Hidayat mengklaim tanah dengan total luas sembilan ribu meter persegi itu akhirnya laku Rp12 miliar.

Persoalan muncul karena Djoni merasa tidak mendapatkan seluruh keuntungan yang dijanjikan Sandiaga. Edward Soeryadjaya pun turut menjadi pihak pelapor dalam kasus itu.

Akibat laporan itu Sandiaga Uno sempat beberapa kali diperiksa polisi di Polda Metro Jaya. Namun kemudian kasus ini berakhir damai.

Kasus ini sebenarnya bermula ketika Sandiaga Uno dan rekan bisnisnya, Andreas Tjahjadi, teseret dalam kasus penjualan tanah PT Japirex pada tahun 2012.

Kasus berawal ketika PT Japirex menjual 1 hektare lahan di Jalan Curug Raya, Desa Kadu, Tangerang seharga Rp 12 miliar.

Kala itu, Sandiaga merupakan pemilik 40 persen saham PT Japirex. Adapun Andreas Tjahjadi, rekan Sandiaga, menjabat direktur utama dan Djoni Hidayat sebagai direktur perusahaan tersebut.

Belakangan, Djoni diduga mengalami kerugian hingga Rp 3,4 miliar karena tidak mendapat bagian dari hasil penjualan tanah tersebut.

Tanah diduga dijual tanpa sepengetahuan Djoni. Padahal, Ia ikut menjadi pemilik sebagian tanah di sana.

Fransiska Kumalawati Susilo mengatakan kesepakatan damai dalam kasus dugaan penggelapan tanah hanya dilakukan antara Djoni Hidayat dan Andreas Tjahjadi, rekan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno yang menjadi tersangka dalam kasus ini.

Fransiska tak lain adalah orang yang melaporkan Andreas dan Sandiaga Uno ke polisi, atas kuasa dari Djoni.

Dikutip dari kompas.com, Sandi sempat menanggapi kasusnya ini sebagai perseteruan antara dua orang super kaya, di mana ada yang mendukung dia dan ada yang mendukung calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjajaja Purnama atau Ahok.

Sehingga, kasus tersebut dinilai tidak ada kaitan dengan dirinya sama sekali.

Istri Konglomerat Bicara

Sementara itu sebuah video berisi istri konglomerat pendiri Grup Astra, William Soeryadjaya, yakni Lili Soeryadjaya, tersebar di media sosial.

Dalam video yang terlihat dipotong-potong itu Lily memberi penilaian tersendiri terhadap sosok Sandi. Wartakota

Komentar dalam video tersebut juga terdengar kurang sedap.  Simak video selengkapnya dibawah ini :

Sebuah kiriman dibagikan oleh M. Bahrunnajach (@m.bahrunnajach) pada

Subscribe to receive free email updates: