Unik, Ibadah Sa’i Diselingi Baca Pancasila Berjamaah, Felix Siauw Komentari Begini

Image result for unik pembimbing umroh ucapkan pancasila
Hari ini, Senin kemarin (12/2/2018) laman youtube dijejali video pendek, durasi 1.49 detik, isinya jamaah umrah sedang Sa’i. Lucunya, di tengah-tengah doa Sa’i yang dibaca secara berjamaah, puluhan jamaahnya diajak membaca Pancasila sampai tuntas, secara bergantian.

Sang Imam awalnya membaca doa Sa’i seperti biasanya, diawali takbir lalu disambung dengan  istighfar. Kalimat ini dibaca bergantian layaknya imam tahlil, rabbighfir warham wa’fu watakarram watajaawaz ‘ammaa ta’lamu, innaka ta’lamu, mala na’lamu, Innaka antallahul a’azzul akram.”


Masih dalam perjalanan antara bukit Shafa dan Marwa itu, puluhan makmum pun dengan kompak menirukan. Usai doa di atas, sang imam lalu membaca teks Pancasila, persis saat upacara bendera. Jamaah pun mengukuti dengan sempurna. Aneh, dan unik. Karenanya ada jamaah yang sempat cekikikan atau tertawa.


Dalam hal bacaan doa dan dzikir selama melakukan Thawaf dan Sa’i, jamaah bisa memiilih doa dan dzikir mana saja yang dirasanya baik, meski tanpa mengikat diri dengan suatu do’a tertentu. Jamaan umrah dan haji juga dapat mengikuti apa yang diajarkan Muthawwif – pembimbing – Thawaf atau Sa’i. Dalam hal ini tidak ada jenis doa dan dzikir tertentu yang diharuskan oleh syara’ (hukum agama).


Dalam buku-buku panduan umrah dan haji yang diterbitkan oleh pihak biro travel umrah haji memang banyak menyebutkan bahwa ada do’a dan dzikir tertentu yang dibaca pada saat putaran pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Namun tetap saja hukumnya tidak wajib.


Jamaah umrah dan haji yang berthawaf dan bersa’i boleh berdo’a apa saja yang dirasanya baik, berupa kepentingan dunia dan akhirat, buat diri sendiri, kaum keluarga dan kerabat, tetangga, jamaah majelis taklim serta teman-teman usaha dan rekan kerja, atau bahkan untuk bangsa dan negara.


Tentu saja, doa-doa yang diajarkan Rasulullah Muhammad saw adalah lebih baik, karena itu berarti mengamalkan sunnah Nabi yang sudah pasti ada tambahan pahala dan menunjukkan kecintaan kepada beliau. (mky)

ini videonya :




Umroh Baca Pancasila, Felix Siauw: Syiar yang tak etis, berlebihan

Umroh Baca Pancasila, Felix Siauw: Syiar yang tak etis, berlebihan
Asalkan dia Muslim, dan memenuhi syarat, maka dimanapun dia, kapanpun zamannya, dia layak dan mampu untuk mengimami manusia dalam shalat, tak peduli siapapun makmumnya, dari negara mana, apa jabatan, atau kekayaannya

Islam tidak membedakan ras, suku, jabatan, bangsa, negara, apalagi harta. Yang paling takwa adakah yang paling tinggi. Ukurannya adalah ketaatan, sebab manusia lahir tak membawa sesuatu, pun meninggal tak membawa juga

Sama seperti saat seorang Muslim masuk ke Masjid, semua sama dihadapan Allah. Sama-sama melepas alas kaki, ruku dan sujud dengan sejajar, tahiyyat dengan waktu yang sama, menyembah Allah teratur terarah di kiblat yang padu

Dalam syariat kita tunduk pada Allah dan Rasul, adapun variasi bukannya haram dalam Islam, tapi diatur tempatnya. Indonesia punya ciri, Turki punya ciri, Cina punya tanda, Arab juga tersendiri dalam variasi cara penyembahan itu

Bila Arab punya Masjid kotak, Turki mengembangkan Masjid berkubah, Indonesia dengan Masjid beratap, ini variasi yang dibolehkan, sebab bentuk Masjid sangat terpengaruh geografis, mana bentuk yang paling cocok

Tapi tak ada yang boleh berbeda dalam syariat yang sudah baku, shalat tetap dalam bahasa Arab walau kita di Indonesia, haji tetap di Arafah meski kita lebih betah di Nusantara, itu sudah ketentuan Allah Yang Mahabenar

Haji dan umrah pun punya ketentuan, semua dari Rasulullah, dan saat melakukan sa’i Rasulullah tidak berikan batasan saat melantunkan dzikir, bahkan bercakap-cakap pun boleh. Tapi membaca teks Pancasila? Sangat berlebihan

Apa yang ingin ditunjukkan? Apa yang ingin disampaikan dengan itu? Bukankah lebih banyak kalimat thayyibah yang bisa dilafadzkan? Khawatir niat di dalam hati kita ingin menunjukkan sesuatu yang tak pantas, besok ada yang membaca UUD45 sekalian?

Islam itu universal, janganlah dibagi-bagi dengan syiar yang tak etis

Andaikan Rasulullah di depan kita, apakah Pancasila yang kita bacakan di depan beliau? atau adakah yang ingin kita katakan di hadapan beliau? Di depan Rabb pencipta kita, pemilik kabah, apa yang ingin kita sampaikan? Ya Rabb, ampuni kami, lisan kami, lintasan sombong dalam hati kami. (*/ls)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Unik, Ibadah Sa’i Diselingi Baca Pancasila Berjamaah, Felix Siauw Komentari Begini"

Posting Komentar