Niat Awal Kritik Presiden, 5 Hal Ini Malah Menimpa Ketua BEM UI Zaadit Taqwa

Niat Awal Kritik Presiden, 5 Hal Memalukan Ini Malah Menimpa Ketua BEM UI, Zaadit Taqwa, Malukah?
Nama Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI), Zaadit Taqwa, populer setelah melayangkan protes 'kartu kuning' kepada Presiden Jokowi.

Banyak pihak mendukung aksi Zaadit tapi tak sedikit pula yang mengecam cara protes Ketua BEM UI tersebut.

Tapi siapa kira, komentar minor malah paling banyak diterima kepada Zaadit.

Kabar Zaadit di kampus atau soal rencana aksi nyata untuk Asmat jadi sorotan netizen.

Apalagi soal peforma Zaadit ketika diundang sebagai narasumber di program talk show Mata Najwa, Rabu (7/2/2018).

Berikut 5 hal memalukan yang diterima Zaadit setelah aksi 'kartu kuning'.

1. Terkuak Nilai Perkuliahan
Niat Awal Kritik Presiden, 5 Hal Memalukan Ini Malah Menimpa Ketua BEM UI, Zaadit Taqwa, Malukah?
Pemilik Twitter, Angga Dito Fauzi, membuka prestasi akademik Zaadit kepada publik.

Angga yang diketahui sebagai assisten dosen yang mengajar mata kuliah Fiskom untuk Zaadit.

Ia menyesalkan Zaadit yang tak menyelesaikan mata kuliah itu dengan baik.

"Selesaikan dulu tugas fiskommu baru kau bisa berbicara seperti tadi,

Fyi, nilai tugas fiskom 2 dia semester kemarin NOL alias tidak mengerjakan tugas sama sekali.

Tidak pantas dia berbicara tentang tugas-tugas pemerintah yang belum selesai," terangnya.

2. Dinilai, Terlambat Beraksi
Niat Awal Kritik Presiden, 5 Hal Memalukan Ini Malah Menimpa Ketua BEM UI, Zaadit Taqwa, Malukah?
Zaadit juga dinilai terlambat melakukan aksi untuk Asmat.

Bahkan sebelum heboh kasus kartu kuning Zaadit bantuan telah meluncur lebih dahulu dari beberapa kampus.

Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dan Universitas Hasanudin (Unhas) lebih dahulu mengirim bantuan ke Asmat.

Setelah aksi juga Zaadit juga diketahui baru membuka penggalangan dana online.

Kendati demikian Zaadit menuturkan aksi penggalangan dana sudah direncanakan jauh-jauh hari.

Kabar terakjir donasi yang dilakukan Zaadit melampau target dan capai ratusan juta.

3. Dibandingkan dengan Mantan Ketua BEM FIB UI
Niat Awal Kritik Presiden, 5 Hal Memalukan Ini Malah Menimpa Ketua BEM UI, Zaadit Taqwa, Malukah?
Selain dinilai terlambat cara aksi Zaadit juga dibandingkan dengan mantan Ketua BEM UI lainnya.

Zaadit dibandingkan dengan mantan Ketua BEM Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI, Muhammad Agus Fuad.

Berbeda cara aksi yang dilakukan Zaadit, Fuad malah terlebih dahulu sampai ke Asmat.

Fuad, nama panggilannya, telah sampai di Asmat dengan lembaga amal Laziz Nahdlatul Ulama (NU).

Disana Fuad dan teman-teman Laziz NU mendirikan rumah gizi.

4. Dibandingkan dengan BEM UGM di Mata Najwa


Selain Fuad, Zaadit juga dibandingkan dengan Ketua BEM UGM Obed Kresna ketika tampil di Mata Najwa.

Netizen ternyata lebih terkesan dengan cara Obed Kresna memandang persoalan 'kartu kuning Jokowi'.

Closing statement Obed pun juga menarik perhartian.

"Bangsa ini mengalami perpecahan.

Orang sekarang yang mengkritik pemerintah disebut anti pemerintah.

Dan orang sekarang yang sering mendukung pemerintah dikatakan pro pemerintah.

Ada perpecahan itu yang kemudian membuat bangsa ini terpecah.

Nah mahasiswa harus menjadi intermedia actor dimana bisa menjadi jembatan keduannya.

Jika dia mengeritik pemerintah bukan dia anti pemerintah.

Begitu pun sebaliknya jika dia mendukung pemerintah bukan berarti mahasiswa pro pemerintah." tutur Obed.

5. Terima Pesan Menohok dari Politisi

Tampil di Mata Najwa, Zaadit mendapat pesan mendalam dari seorang politisi Adian Napitupulu.

Ia menilai pernyataan Zaadit soal Asmat selama ini tidak memiliki legitimasi atau pengakuan moral yang kuat.

Pasalnya sebelum melayangkan kritik, Zaadit belum mengetahui secara langsung apa yang terjadi di Asmat.

Kemudian ketika kritik itu dilayangkan akhirnya terasa tak sepenuhnya membela rakyat.

"Kalian kan calon pemimpin. Pemimpin siapa, pemimpin rakyat.

Lalu siapa yang harus kalian kenali, ya rakyat itu.

Dan mengetahui tentang rakyat tidak cukup dari membaca buku.

(Seharusnya) cium aroma tubuhnya (rakyat), cium keringatnya, pahami penderita mereka, makan bersama mereka.

Lalu baru kalian menjadi pemimpin yang lahir dari rahim rakyat itu sendiri.

Kalau itu kalian lakukan sebelumnya, kartu kuningnya memiliki legitimasi sangat kuat.

Sekarang jadi debatabel. Kartu kuning itu dasarnya apa.

Oke bicara Asmat, udah ke sana? Belum.

Perlu di ajak Presiden? Tak perlu!

Nilai perjuangan itu dinilai dari perjuangan kita ke Asmat!" terang Adian.

Kendati demikian Zaadit tetap bersikukuh memahami kondisi rakyat meski tak 'mencium bau' rakyat langsung di lapangan.

(Tribunstyle.com/Verlandy Donny Fermansah)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Niat Awal Kritik Presiden, 5 Hal Ini Malah Menimpa Ketua BEM UI Zaadit Taqwa"

Posting Komentar