Terkini! Perubahan Iklim Dunia, Inilah Negara yang Diprediksi Akan Tenggelam


Healmagz.com - Washington -- Lebih dari seperempat penduduk Vietnam tinggal di daerah yang kemungkinan besar akan menjadi langganan banjir pada akhir abad ini. Di Cina, empat persen penduduknya-kira-kira 50 juta orang-juga tinggal di kawasan yang bakal rutin digenangi banjir. Sebagai negara kepulauan, Indonesia termasuk dalam sepuluh besar negara yang terdampak perubahan iklim.

Indonesia berada di peringkat keenam negara yang berisiko tinggi dilanda banjir tahunan. Sekitar 10 juta penduduk Indonesia, atau sekitar 4 persen, akan terpapar banjir. Posisi Indonesia sedikit lebih baik daripada penduduk Cina, Vietnam, Jepang, India, dan Bangladesh.

Estimasi wilayah yang akan tergenang banjir dan rob itu adalah hasil analisis terbaru tentang tinggi muka laut dan risiko banjir di seluruh dunia. "Kami menemukan bahwa 147-216 juta orang hidup di wilayah daratan yang akan berada di bawah level muka laut atau level banjir reguler pada akhir abad ini," tulis tim Climate Central, sebuah kelompok riset dan organisasi berita, dalam laman situs mereka. "Hal itu akan terjadi dengan mengasumsikan emisi gas pemerangkap panas akan terus berlanjut sesuai dengan tren saat ini."

Analisis yang dikerjakan oleh lembaga Climate Central itu berlandaskan data tinggi muka laut yang lebih detail daripada data yang tersedia sebelumnya. Analisis ini memberikan estimasi populasi yang berisiko dilanda banjir tahunan negara per negara serta menghitung kisaran potensi penurunan emisi dan variasi sensitivitas tinggi muka laut terhadap perubahan iklim.

Di seluruh dunia, sekitar satu dari 40 orang hidup di tempat yang kemungkinan besar akan terpapar banjir ataupun rob pada akhir abad ini, bila tidak ada perubahan signifikan untuk menahan laju perubahan iklim global.

Di seluruh dunia, delapan dari sepuluh negara besar yang paling berisiko tenggelam berada di Asia. Belanda jelas akan menjadi negara yang paling terpapar kenaikan tinggi muka laut, dengan lebih dari 40 persen wilayahnya menghadapi risiko tergenang banjir tahunan. Namun negara itu juga memiliki sistem tanggul termaju di dunia, sehingga risikonya bisa dipangkas jauh lebih rendah.

Beberapa negara di Asia mungkin sanggup mengadopsi sistem tanggul Belanda dalam beberapa dasawarsa mendatang. Tapi sejumlah negara Asia lain tidak sekaya mereka, sehingga harus lebih berjuang.
Analisis ini juga menawarkan lebih banyak bukti bahwa negara-negara yang memproduksi karbon terbanyak belum tentu menjadi negara yang akan menghadapi dampak terburuk perubahan iklim. Amerika Serikat, misalnya. Negara ini adalah salah satu penghasil emisi karbon terbesar per kapita dan emiter terbesar sepanjang sejarah. Namun negara itu berada di peringkat ke-34 dalam daftar negara yang berisiko digenangi air laut pada akhir abad ini, diapit India dan Madagaskar.

Warga Amerika yang diproyeksikan terpapar banjir reguler itu hanya sekitar satu persen. Angka itu mungkin terlihat kecil, tapi jumlahnya mencapai 3,1 juta orang, lebih banyak daripada gabungan jumlah orang yang tinggal di Chicago dan Minneapolis.

Cina, di sisi lain, adalah negara penghasil emisi gas rumah kaca tertinggi sekaligus negara dengan populasi terdampak yang paling banyak pula.

Hasil analisis tersebut memberikan peringatan kepada negara-negara yang ada dalam daftar untuk mengantisipasi risiko datangnya banjir rutin ketika permukaan laut semakin tinggi. Tentu saja ada ketidakpastian tentang emisi karbon, pemanasan global, dan level air laut pada masa depan. Analisis ini hanya mengestimasi kecenderungan yang tengah terjadi bagi negara-negara yang menghadapi risiko tertinggi.

Analisis yang dilakukan dua peneliti Climate Central, Benjamin Strauss dan Scott Kulp, ini menemukan bahwa 2,6 persen populasi dunia, atau sekitar 177 juta orang, hidup di area yang rentan terhadap banjir dalam 100 tahun mendatang. Bila emisi global berhasil dipangkas habis-habisan dan laut tidak terlalu sensitif terhadap perubahan iklim, jumlah penduduk di negara pantai yang terdampak turun menjadi 1,9 persen. Sebaliknya, jika emisi tak terbendung, angkanya dapat naik menjadi 3,1 persen.

"Estimasi wilayah terpapar banjir tersebut mungkin masih terlalu konservatif," kata Strauss dan Kulp dalam laporan mereka. "Jika data yang lebih detail diterapkan secara global, berarti ada lebih dari 500 juta orang yang hidup di tempat yang berisiko dilanda banjir reguler pada abad mendatang."

Berdasarkan hasil analisis Climate Central, kelompok terbesar yang akan terkena dampak peningkatan tinggi muka laut adalah 41-63 juta penduduk Cina. Kisarannya akan sangat tergantung pada sensitivitas tinggi muka laut terhadap pemanasan.

Kendati demikian, angka tersebut mungkin dua-tiga kali lebih rendah, yang berarti ada sekitar 650 juta orang yang mungkin bakal menghadapi risiko kehilangan tempat tinggal karena terbenam kenaikan muka air laut.  /tempo

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Terkini! Perubahan Iklim Dunia, Inilah Negara yang Diprediksi Akan Tenggelam"

Posting Komentar